MERAWATMU DI USIA SENJA

Robert mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan merawat istrinya yang sakit alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak.

Sehingga berprilaku seperti bayi, tidak bisa berbuat apa pun, bahkan untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.

Alasan itulah yang membuat Robert untuk merawat istrinya dgn tangannya sendiri. Sebab Muriel adalah wanita yg sangat istimewa baginya.

Singkat cerita, di tanggal 14 Februari 1995 sebagai hari istimewa untuk Robert & Muriel, karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robert melamar Muriel.

Pada hari istimewa itu Robert memandikan Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Menjelang tidur ia mencium dan menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar nyanyian malaikatMu. Amin.”

Pagi harinya, ketika Robert berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robert.

Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel tidak pernah berbicara atau memanggil dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku … sayangku …”

Robert melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu. “Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya Muriel.

Setelah melihat anggukan dan senyum diwajah Robert, Muriel berbisik, “Aku bahagia !” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Muriel sebelum meninggal kepada suaminya..

Siapa tak kenal Mr.bean yg selalu membuat kita tertawa disetiap aksinya …

Dialah Robert Atkinson (Robertson McQuilkin) yang mencintai dan  dan merawat istrinya itu …

Iklan

AKU MENCINTAI PEKERJAANKU

Apakah Anda berfikir untuk keluar dari pekerjaan Anda?

1. Jika Anda sangat membenci pekerjaan anda sekarang, (tanpa menganggap rendah pekerjaannya-red) bersyukurlah jikalau anda tidak memungut sampah. Karena di banyak negara mereka bergelut dengan sampah untuk memilih sampah yang masih memiliki nilai uang.

2. Atau mungkin anda adalah seorang costumer service. Di India, mereka mengangkat telepon dari Amerika Serikat dan mencoba menjelaskan dengan susah payah kepada orangtua berumur 70 tahun yang meminta bantuan anda untuk menginstal software dan lainnya.

3. Atau Inspektur yang meneliti gorong-gorong air dibawah tanah.

4. Apakah anda ingin pekerjaan yang kreatif? Di Jepang anda bisa menjadi seorang perekat batu. Melumuri batu dengan lem, menyusunnya dan menempelnya satu persatu diatas tanah.

5. Jika anda seorang pekerja di pusat kesehatan kaki, dimana anda digaji dengan rendah untuk memijat kaki orang lain.

6. Di Amerika Serikat, bekerja mengurus kabel listrik atau telepon adalah pekerjaan dengan penghasilan baik. Di tiga negara bagian yang banyak sekali badai, anda dapat bayangkan jika terjadi badai dan kabel-kabel itu akan menjadi kusut dan semberaut siapa yang akan merapikan kabel tersebut dan memastikannya dapat berjalan dengan normal.

7. Di Filiphina, banyak pekerja yang merapikan kerutan kain selama 15 jam sehari.

8. Anda tidak suka dengan kostum kerja anda? Coba lihat mereka yang bekerja dengan menggunakan kostum badut utuk memberi kesan kepada pelanggan mereka.

9. Di tempat pembuangan sampah akhir, orang harus datang lebih pagi dan membayar sejumlah uang untuk mendapat ijin mengambil sampah-sampah yang masih dapat di jual.

10. Jika anda merasa bosan dengan meja kerja anda, coba lihat para buruh kebun yang tidak mempunyai tempat duduk bahkan sambil memikul keranjang di pundaknya tempat hasil kebun yang mereka petik.

Jadi, saudara apapun pekerjaan kita saat ini. Bersyukurlah dan jangan sekali-kali membencinya. Karena masih banyak orang yang bekerja dengan tekanan yang kita sendiri belum tentu sanggup mengerjakannya. Cintailah pekerjaan anda.

ANEH, AIR TELAGA HILANG DALAM SEMALAM

 
GUNUNGKIDUL-Fenomena alam tanah ambles kembali terjadi. Kali ini terjadi di Telaga ‘Motoendro’ Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta.

Foto: Yuwono

Akibatnya 300 KK dua dusun kehilangan tampungan air yang biasa digunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Menurut penuturan Sugirin, warga setempat, telaga yang memiliki panjang 30 meter dan lebar 15 meter tersebut sebelum ambles penuh dengan air. Kejadian ini bermula pada Senin malam (2/1/2011) terdengar suara dentuman keras dari arah telaga.

”Sebelumnya airnya setinggi orang dewasa. Dentuman itu seperti bom saat tentara latihan,” katanya kepada wartawan.

Keesokan harinya Selasa (3/1/2012) warga mendatangi lokasi dan warga melihat air tersebut memutar dan surut di satu titik atau lubang dengan diameter 5 meter. Dan dalam waktu semalaman air telaga yang penuh habis.

“Tiba-tiba air hilang, warga berusaha menahan air menggunakan kayu dan batu untuk menutup lubang dengan cara melempar,” imbuhnya.

Dijelaskan Sugirin, amblesnya tanah di telaga tersebut, sudah dilaporkan ke pihak desa dan kecamatan. Namun, memang belum ada tindak lanjut hingga saat ini. “Belum pernah ditengok oleh pejabat dari kecamatan maupun kabupaten,” tambahnya.

Sementara, salah seorang warga lain, Ngatilah (70), mengatakan telaga tidak pernah kering dan menjadi tumpuan warga. Telaga tersebut, biasanya digunakan untuk mencuci, memandikan sapi. Bahkan jika musim kemarau digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.

“Telaga ini, tumpuan bagi warga dua dusun mas. Kalau telaga ini, kering kami ya kebingungan,” ujarnya.

Ia juga mengkhawatirkan banyak warga melihat terutama anak kecil yang tak menghiraukan bahaya saat bermain di sekitar lubang tersebut.

“Kami khawatir, kalau pada saat anak kecil lihat-lihat lubang tersebut, kemudian longsor, karena kemungkinan kedalaman sekitar ratusan meter,” tuturnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih terus melihat-lihat, dan mereka masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah, agar segera mungkin bisa diatasi. Warga ingin segera menutup lubang agar telaga bisa digunakan kembali. (Markus Yuwono/Sindoradio/crl)

http://news.okezone.com/read/2012/01/04/340/551799/aneh-air-telaga-hilang-dalam-semalam

MAKAN APA?


Dalam sebuah perkuliahan, seorang dokter senior yang menjadi dosen ditempat itu bertanya kepada para mahasiswanya mengenai makanan utama apakah yang akan mereka cari ketika bertugas didalam lingkungan yang terpencil. Semua mahasiswa diperkenankan mengemukakan jawaban dan juga alasannya.

Jawaban dan pendapat dari mereka sangat beragam. Beberapa diantaranya kebanyakan adalah jawaban yang sama. Makanan yang akan mereka cari ditempat tersebut antara lain adalah buah, sayuran dan daging. Bahkan ada juga yang menjawab bahwa dirinya akan mencari jamur dan akar-akaran karena dianggap punya khasiat yang sangat bagus untuk kesehatan mereka di lingkungan tersebut.

Dokter senior itupun sesaat tersenyum puas dan bangga bahwa para mahasiswanya adalah calon dokter yang punya referensi dasar yang mumpuni untuk bertahan hidup di lingkungan terpencil. Hingga seorang mahasiswanya yang terlambat datang, masuk dan diperkenankan untuk memberikan jawaban beserta alasannya, mengenai makanan apa yang akan dia cari ketika di lingkungan terpencil tersebut.

Mahasiswa itu seketika terdiam, dan akhirnya meluncurlah kata-kata yang begitu mengagetkan namun memberikan iman dan motivasi yang besar bagi semua orang diruangan itu. “Pastinya saya akan makan Firman Tuhan. Karena dari Firman tersebut, setiap harinya saya akan diperlengkapi dan diberkati secara keseluruhan. Bukan hanya makanan jasmani saja, namun dengan firman Tuhan, makanan rohani akan terpenuhi. “Kita tidak perlu lagi kebingungan atas pertanyaan “mau makan apa aku hari ini?”.”

Jawaban tersebut ditanggapi oleh tepuk tangan dari rekan mahasiswa lain dan jabat tangan yang erat dari sang dosen. Diakhir perkuliahan, sang dosen tersebut mengajak seluruh mahasiswanya untuk berdoa bersama, dan menekankan pentingnya makan Firman Tuhan!. Selamat menikmati Firman Tuhan.. (Jawaban.com-DanielTanamal)

SEMUT DAN BELALANG

Ini tentang seorang guru yang bercerita tentang semut yang bekerja keras selama musim panas, sementara si belalang hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main dan sama sekali tidak bekerja. Ketika musim dingin datang, belalang kelaparan dan karena ia sama sekali tidak memiliki makanan, maka ia datang kepada semut dan meminta makanan. Lalu guru itu memberikan tugas kepada murid-muridnya, “Anak-anak, karena ini adalah pelajaran mengarang, maka tugas kalian adalah menulis akhir cerita tersebut.”

Ketika kertas mulai dikumpulkan, kebanyakan murid menulis bahwa semut itu tidak mau memberikan makanannya kepada belalang dan membiarkan belalang itu mati kelaparan. Tapi seorang murid menulis akhir cerita tersebut dengan menarik : Semut itu memberikan semua makanannya kepada belalang sehingga belalang itu bisa bertahan hidup, tetapi si semut itu mati.

Yang lebih menarik, di bagian paling bawah ia menggambar salib dan menulis, “Dia memberikan segalanya untuk kita supaya kita beroleh hidup.”

Rasanya tidak masuk akal ketika membaca bahwa si semut mengorbankan dirinya hanya untuk menyelamatkan si belalang yang malas itu. Tapi bukankah hal yang sama Tuhan lakukan bagi kita? Kita adalah orang berdosa dan penuh dengan kejahatan, layak kalau kita dihukum. Melihat record kita, jelas kita sama sekali tidak layak untuk diselamatkan.

Namun uniknya, Yesus menyelamatkan kita justru pada waktu kita dalam keadaan berdosa seperti itu. Yesus mati agar kita hidup! Yang benar dibuat menjadi berdosa supaya yang berdosa bisa dibenarkan! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tetapi itulah yang Yesus lakukan untuk menyelamatkan kita, mirip cerita semut dan belalang itu.

jika saya meminta kepada Anda untuk melanjutkan cerita semut dan belalang itu, cerita apakah yang akan Anda tulis? Seharusnya kita menulis : Belalang itu terharu dengan pengorbanan si Semut. Ia bertobat dari kemalasannya, hidupnya berubah dan ia begitu menghargai arti sebuah anugerah. Bukankah menyedihkan ketika cerita itu menjadi seperti ini : Belalang itu berterima kasih kepada semut yang sudah mati. Tertawa senang dan menghabiskan hidupnya dengan bermalas-malasan lagi karena siapa tahu ada semut lain lagi yang mau mati untuknya. (Kwik/RenunganHarianSpirit)

MELAYU BERARTI “AGAMA LAIN”


Kedua mata Jon dibalut dengan kain hitam tebal yang menutupi setengah dari wajahnya. Kedua tangannya mati rasa dan tubuhnya sakit. Setelah diikat dengan tali dan diperlakukan kasar oleh para penculiknya, sekarang dia berada di bagian belakang mobil SUV yang melaju kencang melalui jalanan berdebu, menuju suatu tempat yang tidak diketahui.

Beberapa jam sebelumnya, Jon dan 10 orang etnis Melayu Kristen sedang berada dalam sebuah rumah di pinggiran kota KL. Mereka sedang belajar Alkitab, ketika 4 orang petugas berpakaian polisi dan 10 anggota Polisi Agama tiba-tiba datang dengan mengendarai 3 kendaraan roda empat.

Polisi mulai mendorong dan meneriaki orang-orang percaya ini, meminta mereka mengatakan siapa yang memimpin kelompok ini. Jon berdiri. Sebelumnya, dia pernah mengalami guncangan seperti ini. “Saya pemimpin mereka,” katanya. “Tolong jangan sakiti mereka. Bawa saja saya.”

Sejak penahanan pertamanya setelah pertobatannya dari “agama lain” menjadi Kristen pada tahun 2005, Jon dipaksa untuk melapor ke polisi setiap 3 bulan. Selama 6 bulan, mereka telah memaksanya untuk membaca doa-doa “agama lain”, supaya dia mau kembali kepada ajaran agama yang dianggap “agama warisan” pendahulu mereka. Selama 6 tahun, dia terus menolaknya.

Jon sudah biasa dengan perlakuan kasar polisi, jadi dia tidak kaget ketika dibawa ke sebuah kantor polisi yang sudah dia kenal. Dia pernah dibawa ke kantor polisi ini berkali-kali dan bahkan tahu di mana kepala polisi menggantungkan topinya. Meskipun demikian, pada keesokan harinya, 26 Maret 2011, segalanya berubah. Polisi menutup matanya, mengikat tangan dan kakinya, dan melemparkannya ke dalam bagian belakang mobil SUV.

Di negara tempat Jon tinggal, penginjilan kepada orang-orang “agama lain” dianggap melanggar hukum dan dapat dikenakan denda, kurungan, atau keduanya. Keberanian Jon meninggalkan “warisan agama” etnisnya, membuatnya menjadi “seorang pengkhianat” di mata sebagian besar orang Melayu.

Walaupun populasi negara tersebut terdiri dari berbagai etnis China, Vietnam, India, dan lainnya, pemerintah berusaha mempertahankan budaya asli yang terpisah. Dua peraturan hukum dibuat — peraturan hukum yang mengatur seluruh warga negara dan peraturan hukum “agama lain” yang hanya diberlakukan atas pemeluk agama tersebut (isinya mengatur tentang beribadah, keluarga, harta, dan warisan). Kerajaan tempat Jon tinggal telah berusaha untuk mempertahankan kelangsungan budayanya dengan menuliskan tentang Melayu dan agama ke dalam undang-undang. Pasal 160 menyatakan “etnis Melayu” adalah seseorang yang lahir sebagai seorang warga negara asli, mengikuti budaya di sana, dan “agama lain”. Mereka menyebutnya “masuk melayu”, yang artinya menjadi Melayu adalah berarti juga memeluk “agama lain”. Agama tersebut bukan hanya sekadar sebuah agama bagi orang-orang pribumi; tetapi juga menjadi identitas nasional mereka. Dan bagi mereka yang mencoba meninggalkan keimanan asal akan mengalami begitu banyak kesulitan, termasuk kurungan penjara di dalam rumah rehabilitasi. Pemerintah menganggap setiap pengkhianatan atas agama adalah ancaman bagi keamanan nasional.

Sekitar 4 jam setelah polisi memaksa Jon masuk ke dalam mobil SUV, dia dijatuhkan keluar dari kendaraan dan dibawa ke dalam sebuah rumah di utara negara tersebut, berbatasan dengan negara tetangga. Rumah ini dikelilingi oleh tembok dinding yang tebal dan kawat berduri. Jon dibawa ke salah satu dari tujuh pusat pemurnian agama. Sementara pemerintah mengatakan secara terbuka bahwa pusat-pusat rehabilitasi ini adalah “tempat perenungan” bagi orang-orang “Agama Lain” yang sedang mengalami guncangan dalam iman mereka, kehadiran Jon di dalam pusat rehab seperti ini tentu saja bukan karena keinginannya sendiri.

Jon diikat tangan dan kakinya. Dia ditempatkan di suatu ruangan seukuran dapur, dengan 3 orang pria lain yang kemudian diketahui sebagai orang-orang percaya berlatar belakang “agama lain”. Lalu dimulailah penyiksaan. Selama 3 hari, siang dan malam, Jon dibawa ke ruangan interogasi beberapa kali, di mana dia dihadapkan kepada guru-guru “agama lain”, yang dia gambarkan memiliki “jenggot panjang” dan pandangan mata yang bengis.

“Mereka mengirim banyak guru agama dan seorang dukun,” kata Jon. “Pemimpin mereka membacakan doa-doa. Mereka mencoba dan mencoba lagi supaya saya ikut membaca doa bersama mereka. Tetapi setiap kali mereka membaca doa, yang saya dengar hanyalah doa orang-orang percaya yang berdoa bagiku di tempat ini.” Mereka berpikir memunyai kuasa untuk membawa saya kembali ke “agama lama”, kata Jon. “Saya katakan kepada mereka, seandainya kamu membacok kepala saya sekarang, saya tidak peduli. Lakukan saja karena Tuhan bersama saya. Mereka menjadi sangat marah dan mulai menendang dan memukuli saya. Tetapi saya tidak merasakan sakit atau penghinaan. Saya percaya Tuhan hadir saat itu, dan saya bisa mendengar doa para malaikat dan teman-teman Kristen saya. Ketika mereka menginjak dan menendang saya, di saat itulah saya merasakan doa-doa itu dan juga merasakan kehadiran Tuhan.”

Jon dipaksa duduk di atas es dengan badan telanjang, sementara orang-orang yang menginterogasinya mengumandangkan ayat-ayat “agama lain” kepadanya. “Kami akan membunuhmu kalau kamu tidak membaca kalimat doa ini,” ancam mereka. Jon dipukuli dengan batang bambu yang panjang dan tebal, paling tidak 14 kali. Pemukulan dan penyiksaan mulai menghancurkannya, tetapi dia tidak menyangkal Kristus. Walaupun dia menjadi lemah, Jon tetap beriman sementara orang Kristen lainnya yang satu sel dengannya akhirnya menyerah.

“Ketika dipukuli, saya mendapatkan penglihatan Yesus yang sedang dipukul. Saya melihat darah Yesus bercucuran, lalu saya mendengar suara lembut Roh Kudus yang mendorong saya, untuk tidak menyangkal Kristus apa pun yang terjadi. Iman saya dipulihkan dan saya mulai memuji Tuhan, tersenyum, dan tertawa ketika mereka memukuli saya. Bagi saya, tidak masalah dipukuli karena Yesus juga pernah dipukul.”

Setelah 3 hari masa penyiksaan, polisi agama melimpahkan penahanan Jon ke kantor polisi setempat. Anggota gerejanya membayar uang jaminan pembebasannya dan dia dibebaskan.

(Diambil dan disunting dari:/Nama buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret – April 2012/Penulis: Tidak dicantumkan/Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2012/Halaman: 4-6/i-kan-kisah)

GAME ONLINE = BERHALA ZAMAN SEKARANG

Berhala di zaman sekarang ini tidaklah lagi berbentuk patung yang dari kayu, batu, emas dan lain sebagainya. Walaupun benda-benda seperti patung dan lain-lain itu masih tetap banyak kita temui di berbagai tempat. Tetapi kali ini saya mengajak kita semua melihat ada berhala terselubung yang tidak disadari oleh banyak orang. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa seseorang atau seorang anak bisa “kecanduan” main game online? Ya karena di dalam game online itu ada kuasa-kuasa kegelapan yang dapat menarik perhatian terus menerus setiap orang yang memainkannya.

Bagi yang suka main game online pasti tahu yang namanya membuat “char” atau karakter. Karakter di dalam game itulah yang dapat menjadi berhala bagi yang memainkannya. Memang “Char” atau Karakter itu tidak mempunyai bentu fisik yang bisa disentuh oleh kita, tetapi karakter di dalam game itu, kita buat seperti patung dalam kehidupan nyata.

Kalau patung biasa dibersihkan dan disembah atau lain sebagainya, kalau di dalam game online, maka menyembahnya dengan cara memainkannya. Maksud saya adalah sama-sama menghabiskan waktu untuk hal yang tidaklah berguna atau jadi melupakan Tuhan sementara waktu atau menarik perhatian kita selain kepada Tuhan.

Ada yang bilang “main game kan buat senang-senang”, ya begitu pula dengan menyembah patung atau berhala, mereka yang menyembahnya juga merasa senang. Maksud saya bukan melarang bermain game atau bersenang-senang, tetapi tentukan siapa yang menjadi hamba dan tuannya? Siapa yang memainkan dan dimainkan? Jangan sampai kita diperhamba dan dipermainkan oleh game itu, alias kecanduan.

Game online semakin hari, semakin menarik perhatian. Bahkan nantinya orang akan semakin sulit membedakan antara realita dengan dunia maya/game. Sekarang saja game jenis “Virtual Life” sudah ada banyak sekali jenisnya. Dari yang lucu-lucu dan imut-imut, sampai yang bentuknya 3D dengan fitur yang bisa menikah dan kawin, berantem dan masuk penjara (walaupun untungnya di Indonesia game itu di blokir. Semoga saja tetap diblokir seterusnya).

Yang memprihatinkan adalah waktu orang menyembah berhala/patung, tidaklah sebanyak ketika orang-orang yang kecanduan bermain game online. Industri game pun semakin hari semakin banyak, begitupun pengusaha warnet dilingkunganku semakin hari semakin banyak dan banyak yang buka 24 jam. Bisa dibayangkan bahaya pada anak-anak dan terlebih orang dewasa yang kecanduan main game online. (yang mati/korban karena bermain game online nonstop sudah banyak, dan akan bertambah terus).

Game online sudah banyak sekali merusak otak dan pikiran anak-anak sekolah maupun yang kuliah, bahkan yang kerja. Berapa banyak anak jadi putus sekolah, atau DO kuliah gara-gara game online, bahkan ada yang gara-gara main game online saat bekerja, jadi membuat orang lain tewas (kejadian seorang dokter jaga bayi, yang keasyikan main game online saat betugas jaga). (Semoga tidak ada diantara teman-teman semua disini.)

Kasus kekerasan, di antara anak-anak seperti merampok, membunuh, memperkosa, menganiaya, dan lain sebagainya salah satu penyebabnya karena di dalam game online banyak hal-hal itu. Seorang yang sudah tidak dapat membedakan realita maka orang itu akan menganggap nyawa manusia tidaklah berharga, lagipula kalau di game online kan kalau mati bisa hidup kembali. Jadi semakin membuat seseorang yang sudah kecanduan game online tidaklah lagi peduli atau menghargai orang-orang di sekitarnya termasuk menghargai keluarga ataupun atasannya.

Bagi yang punya anak dan hobi main game, coba deh sesekali perhatikan, game apa saja yang dimainkan. Kalau dulu D&D (Dungeon & Dragon) sempat dibahas di berbagai buku rohani Kristen sebagai game berbahaya untuk dimainkan karena sihir yang didalam game itu dapat dipraktekan di dunia nyata (Silahkan dicoba kalau nggak percaya, tapi kalau masuk neraka jangan salahkan saya ya. Peace). Tetapi saya pikir sekarang, game D&D itu sudah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan game-game online yang baru-baru. Maksud saya banyak yang lebih berbahaya daripada game D&D.

Untuk yang mau melihat wujud-wujud iblis dan setan-setan di neraka, sekarang ini tidaklah perlu lagi punya karunia penglihatan atau dibawa Tuhan Yesus ke neraka. Sebab setan-setan itu sudah “promosi” atau menyatakan wujudnya melalui gambar-gambar 2D maupun 3D di dalam game-game online maupun anime. Dari gambar wujud yang dibuat lucu-lucu sampai bentuk aslinya yang menyeramkan. Bahkan setan-setan itu pun mengenalkan nama mereka dengan nama aslinya. Mungkin supaya kalau antikristus berkuasa, orang-orang sudah mengenal mereka dan sifat-sifat mereka.

Tidak jarang juga setan-setan yang tampaknya seram itu bisa kita mainkan atau jadikan “char” atau karakter kita. Silahkan dibayangkan sendiri jika kita sudah merasa berperan sebagai salah satu dari setan-setan itu. Cepat atau lambat, kita akan mempunyai sifat yang tidak berbeda dengan “char” atau karakter setan yang ada di dalam game itu.

Kalau mau dibahas tentang game online yang dibuat begitu menarik, saya kira tidak akan ada habisnya. Sebab semakin lama, setan akan semakin pintar untuk menipu manusia. Kalau sekarang saja sudah banyak anak-anak yang lebih memilih pergi ke warnet daripada ke gereja, suatu saat nanti orang-orang akan memilih percaya kepada setan daripada percaya kepada Yesus ketika Tuhan Yesus datang kedua kali.

Segitu dulu… Lain kali saya lanjutkan lagi, hati-hatilah supaya game online tidak menjadi berhala di dalam kehidupan ini. Sekali lagi saya tidak melarang bermain game online, cuma berhati-hatilah saat memainkannya. (Dedy Yanuar)

 

NIKMATNYA TIDUR DENGAN ISTRI BELANDA

SETIAP malam, sebagian dari kita terbiasa tidur dengan memeluk “istri Belanda” (Dutch wife) Alias guling. Tanpanya tidur tak terasa nyaman. Tapi di masa lalu, tak semua orang bisa memilikinya. Hanya kalangan atas atau priyayi. Kisah dalam novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer, menyentil kebiasaan itu.

Dalam sebuah percakapan sesama mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi, Wilam membicarakan lelucon-lelucon dari kehidupan tuan tanah bangsa Inggris kepada sahabat-sahabatnya, termasuk Minke. “Tahu kalian apa sebab di dalam Asrama tidak boleh ada guling?”

Dia pun mulai bercerita. Menurutnya, guling takkan ditemukan di negeri-negeri lain di dunia –setidaknya menurut mamanya. Ini bermula ketika orang-orang Belanda dan Eropa lainnya datang ke Hindia. Karena tak membawa perempuan, mereka terpaksa menggundik. “Tapi orang Belanda terkenal sangat pelit. Mereka ingin pulang ke negerinya sebagai orang berada. Maka banyak juga yang tak mau menggundik. Sebagai pengganti gundik mereka membikin guling –gundik yang tak dapat kentut itu.”

Wilam juga bilang bahwa guling takkan ditemukan dalam sastra Jawa lama maupun sastra Melayu. “Memang tidak ada. Itu memang bikinan Belanda tulen –gundik tak berkentut. Dutch wife… “

“Dan tahu kalian orang pertama-tama yang menamainya? Raffles, Letnan Gubernur Jenderal Hindia.”

Meski sebuah novel, obrolan ringan mengenai guling itu tak sepenuhnya salah. Guling lahir dalam kebudayaan Indisch abad ke-18/19, percampuran antara kebudayaan Eropa, Indonesia, dan China. Kebudayaan ini kemudian menjadi gaya hidup golongan atas.

“Percampuran kebudayaan ini bisa dilihat misalnya pada pemakaian perabot seperti kursi Eropa, meja, dan tempat tidur dengan bantal, termasuk perlengkapan baru yang disebut guling atau Dutch wife, yang tidak ada dalam perlengkapan tempat tidur Eropa, jadi khusus Indisch,” tulis Hadinoto, dosen Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam “Indische Empire Style”, yang dimuat Jurnal Dimensi Arsitektur, Desember 1994.

Pribumi Hindia belum lama menggunakan guling. “Mereka hanya meniru-niru orang Belanda. Yang datang dari Belanda serta-merta ditiru orang, terutama para priyayi berkepala kapuk itu. Inggris mengetawakan kebiasaan berguling,” tulis Pram.

Hanya saja Pram, juga penulis lain, tak Akurat ketika menulis bahwa guling hanya ada di Indonesia. Guling juga terdapat di negara lain di Asia Tenggara. Variannya di Asia Timur dinamakan “istri bambu”, jukbuin, chikufujin, atau zhufuren yang terbuat dari Anyaman bambu. Varian ini kemungkinan memengaruhi Dutch wife, karena keberadaan jukbuin sudah jauh sebelumnya.

“Sejarah jukbuin bisa dilacak ke belakang setidaknya pada masa Dinasti Goryeo, ditunjukkan novel berjudul Jukbuin-jeon (Story of the Bamboo Wife) karya Yi Gok (1298-1351),” tulis http://www.dynamic-korea.com.

Pengaruh “istri bambu” atas “istri Belanda” juga tampak dari definisi Dutch wife dalam Oxford English Dictionary, sebuah kamus yang mulai disusun sejak 1879 dan rampung 1927 atau empat puluh delapan tahun kemudian. Kamus itu mendefinisikan Dutch wife sebagai “sebuah kerangka berlubang-lubang dari rotan yang digunakan di Hindia Belanda dan lain-lain untuk sandaran anggota badan di tempat tidur.”

Tapi yang jelas keberadaan guling ini kerap mengejutkan orang-orang yang baru tiba di Hindia. Sejarawan dan pastor dari Amerika Serikat John S.C. Abbott (1805–1877) menceritakan pengalamannya bertemu guling dalam “A Jaunt in Java”, yang dimuat di Harper’s New Monthly Magazine Volume XV, Juni-November 1857.

Ketika melemparkan diri ke ranjang, kata Abbott, Anda akan telentang dengan Dutch wife. “Jangan terkejut! Anda tak akan mendapatkan ‘kuliah tirai’ (curtain lecture) karena Dutch wife berbentuk bulat, bantal panjang keras, yang bikin takjub setiap orang asing ketika melihatnya terbaring rapi dan kaku di tengah ranjang seperti mayat kecil,” tulis Abbott.

Setelah tahu bagaimana memperlakukan “istri Belanda”, Abbott pun menjadi lebih dekat dengannya. “Singkatnya, Dutch wife harus diletakkan di bawah kaki atau lengan untuk mencegah kontak terlalu hangat dengan kasur, dan memungkinkan sirkulasi udara dingin. Dan kenyamanan dalam iklim tropis ini hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah mencobanya. Satu Dutch wife yang diisi dengan kapas lebih baik daripada Dutch wife buatan China yang berongga-rongga dan terbuat dari bambu,” kata Abbott.

Seorang Prancis, Desire Charnay, pengemban misi ilmiah dan pendidikan untuk pihak otoritas Belanda, kebingungan saat tinggal di Jawa selama enam minggu pada 1878. Seperti dikisahkan dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX karya Bernard Dorleans, guling itu berisi jerami yang keras seperti kayu. Pelayan Melayu memberi tahunya.

“Guling itu Anda letakkan di antara kaki agar keduanya tidak bersentuhan dan supaya Anda bisa tidur dengan nyaman,” kata pelayan Melayu itu.

Begitu nyamannnya sehingga Horst Henry Geerken, seorang Jerman yang 18 tahun tinggal dan bekerja di Indonesia, tak melupakan pengalamannya bersama guling. Hingga sekarang, dia jadi terbiasa dengan guling. “Sekali pun di Jerman, saya tetap memakai guling. Kita bisa memeluk guling pada malam hari dan menekuknya dengan kaki. Rasanya nyaman dan sejuk. Guling berguna untuk memberi sirkulasi udara secara bebas dan menyerap keringat di kaki,” tulis Geerken dalam bukunya A Magic Gecko.

Tapi kenapa guling bisa dinamai Dutch wife?

Situs ensiklopedia online, di http://encyclopedia.jrank.org, Berbasiskan Encyclopedia Britannica edisi ke-11 yang diterbitkan 1911, menulis bagaimana peranan bahasa dalam mendukung dan mengukuhkan stereotip, termasuk penggunaan istilah yang mengaitkan dengan Belanda. Dalam tulisan berjudul “Blason Populaire” disebutkan bagaimana Oxford English Dictionary menekankan koneksi sosiolinguistik.

“Karakteristik atau pengaitan dengan Belanda, sering dengan Aplikasi yang menghina atau mengejek, sebagian besar disebabkan persaingan dan permusuhan antara Inggris dan Belanda pada abad ke-17… Namun hanya ‘janda Belanda’ (Dutch widow) yang dicatat sebelum 1700, dalam sebuah naskah drama karya Middleton pada 1608. Memainkan kata-kata menggunakan kata Belanda dan negara-negara yang rendah untuk merujuk daerah kelamin umum pada masa Elizabethan.” Karya Thomas Middleton itu adalah Trick to Catch the Old One, terbit 1608.

Arietha, perempuan asal Belanda, dalam artikel “The influence of the Dutch on the English language”, dimuat di http://www.hubpages.com, juga merujuknya pada persaingan antara Belanda dan Inggris. Setelah kekuasaan Spanyol meredup, Belanda muncul sebagai kekuatan militer dan dagang yang unggul di lautan pada awal abad ke-17. Periode ini dalam sejarah Belanda dikenal sebagai masa keemasan. Bersama Inggris, Belanda menumpuk kekayaannya atas dasar kolonialisme-perusahaan dagang negara tak resmi melalui Dutch East dan West India Companies, yang membentang dari Hindia (Indonesia), Sri Lanka, dan Brasil hingga Aruba, Antilles, dan ujung selatan Afrika. Antara 1652 dan 1674, Belanda menghadapi perang laut dengan Inggris. Inggris berharap bisa merebut kendali pelayaran dan perdagangan dari Belanda tapi gagal.

“Sebagian besar kata-kata dan ekspresi Belanda dibuat saat titik terendah hubungan antara Inggris dan Belanda. Rivalitas mereka menemukan saluran lewat berbagai ucapan populer yang diciptakan masing-masing negara untuk menghina yang lainnya,” tulis Arietha.

“Tradisi anti-Belanda dari para pemukim Inggris awal bertahan dan memberi (Amerika) istilah-istilah seperti ‘Dutch treat’ pada 1887, ‘go Dutch’ pada 1931…,” tulis Stuart Berg Flexner dalam I Hear America Talking, sebagaimana dikutip dari forum The Phrase Finder (www.phrases.org.uk).

The Phrase juga mengutip Morris Dictionary of Word and Phrase Origins karya William dan Mary Morris: “Mungkin tak ada negara yang begitu terus-menerus menjadi semburan pelecehan secara verbal dari bahasa Inggris kecuali tetangga mereka di seberang lautan, Belanda… Tidak selalu demikian. Hingga setelah masa Shakespeare, Belanda biasanya dihormati di semua referensi sastra oleh para pengarang Inggris.”

Sementara Encyclopedia of World and Phrase Origins karya Robert Hendrickson menulis: “Orang-orang Belanda begitu tersinggung oleh bahasa Inggris selama tiga abad sehingga pada 1934 pemerintah mereka memutuskan untuk membuang kata ‘Dutch’ dan menggunakan kata ‘Netherlands’ jika memungkinkan.”

Meski Inggris membuat istilah itu dengan nada menghina, dan menertawakan kebiasaan menggunakan guling, toh mereka juga membutuhkannya ketika di Hindia. Dan Belanda punya istilah sendiri untuk guling ini, yakni British doll alias boneka Inggris. Setidaknya ini dikatakan Partotenojo, yang dijuluki Partokleooo, teman Minke lainnya dalam novel Jejak Langkah.

Terlepas dari perang istilah itu, guling tetap menjadi peralatan tidur yang tak bisa dilepaskan, hingga kini, terutama di Indonesia.

( http://www.indonesiaindonesia.com)

AKULAH SAHABAT MEREKA

Siap…Siap…dan  Siap itulah kata yang selalu aku ucapkan untuk sahabat kecilku di tempat aku berkarya. Wajah manis, senyum simpul, tawa renyah, muka sayu, rintik air mata, marah, sinis,  itulah bingkai wajah sahabat kecilku ketika terhempas di ruang BK. Yaahhh begitulah……ruang kerjaku menjadi tempat menumpahkan kegalauan yang dirasa sahabat kecilku. Ruang kerjaku juga menjadi singgasana kedamaian, canda tawa bagi sahabat kecilku. Cerita satu ke cerita lain seolah menjadi alur pencarian yang tak pernah dan tak mungkin bisa terputus. Betapa senangnya aku ketika mereka begitu terbuka bercerita tentang semua yang pernah atau sedang mereka alami. Kata-kata khas yang keluar dari bibir polosnya adalah “pak anton ga akan mbocorin cerita ini kan?” secepat kilat aku langsung mengatakan “siap bos…. cerita ini hanya kita berdua yang tau, dan keluar dari ruang ini seolah-olah ga ada apa-apa ok”

Sahabat kecilku selalu gelisah ketika melihat tumpukan pelajaran tak pernah habis menindih pikirannya, tugas yang semakin banyak dan semakin sempit menghimpit ide kreatifnya. Ketika aku tatap dalam-dalam wajahnya, betapa lelah wajah kebanggaan  keluarga ini. Hari selasa di bulan Oktober, aku melihat salah satu sahabat kecilku duduk menangis di selasar samping kapel, kedua tangannya memegang kertas hasil ulangan, “DN ko sendiri, kenapa? Cerita dong sama pak anton ?, begitulah aku menyapa dan segera duduk disebelahnya. Dengan mata sembab serta meneteskan air mata, DN bercerita kalau nilai ulangannya tidak tuntas, dan takut ketahuan orang tua. Akhir cerita, aku bisa menangkap betapa terbebaninya DN. Pertama, ortu selalu mengatakan “kamu kurang apa? les private!, fasilitas belajar! semua sudah papa dan mama penuhi. Kedua, rasa malu dan iri dengan teman-teman padahal waktu SMP DN selalu juara kelas, Ketiga, takut tidak naik kelas. Kemudian aku coba yakinkan sahabat kecilku dengan cerita raport Alberth Einstein waktu SMA, dan tentunya ada cara lagi aku gunakan untuk menyakinkan sahabat kecilku tentang berani untuk gagal dan semangat untuk bangkit.

Aku pikir dengan cara seperti di atas, sahabat kecilku tidak terlalu terpuruk, dan waktu +6 jam DN di sekolah bisa digunakan untuk beraktifitas lainnya tanpa terbebani terus dengan kegagalan yang dialami. Setelah terlihat cukup bisa menerima serta mata tak sembab lagi, aku antarkan DN bergabung dengan teman-temannya di selasar kelas Kanisius. Hari itu aku merenung, apa yang bisa aku lakukan untuk sahabat-sahabat kecilku yang lain, mungkin mereka sedang menangis, putus asa, hilang kepercayaan diri, tapi aku tidak tahu dimana  mereka berada dan apa yang mereka rasakan. Andai aku dianugrahi Tuhan mata batin bak paranormal mungkin aku langsung tahu dan aku rengkuh kesedihannya.

Dalam anganku kadang aku berpikir, seharusnya syarat utama menjadi pendidik adalah murah senyum dan humoris. Senyum memang tidak masuk materi pelajaran. tapi senyum menjadi indikasi kebahagiaan pendidik dalam memberikan materi pelajaran terhadap siswanya. Jika siswa ikut tersenyum dan tertawa lebar berarti peluang menginternalisasi nilai-nilai pelajaran mudah terwujud. Tidak ada lagi siswa menangis takut karena ketidaktuntasan, jika pendidik mau dengan rendah hati dan sabar mendampingi siswanya. Sekali lagi jangan lupakan SENYUM.

Sabtu pagi bulan November, tepatnya habis istirahat pertama, bagian tata usaha member tahu kalau ada orang tua mencari aku PENTING! katanya. Siaaappp boss….begitulah kebiasaanku menanggapi. Selang 10 menit seorang bapak dan ibu datang ke kantorku dengan diantar satpam sekolah. Ibu ini rupanya sudah tidak sabar untuk bercerita. Tanpa memberi kesempatan aku mengucapkan selamat datang dan basa-basi sebentar, ibu tersebut langsung menumpahkan cerita kejengkelan terhadap anak laki-lakinya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak luput dari evaluasi sang ibu tersebut. Saking asiknya menceritakan kekesalan pada anaknya, kaki suaminya yang sedari awal mensenggal-senggol kaki ibu tersebut tak lagi dihiraukan. Perang kakipun berlanjut dan baru berhenti ketika sang suami memotong pembicaraan dengan seucap kata “mama itu terlalu berlebihan, ‘ga sadar kalau “X” sudah punya dunia sendiri” Ibu ini rupanya tidak suka kalau kamar tidur si-“X” di cat warna-warni, bahkan langit-langit kamar tak luput dari clontang-clonteng kuas. Gambar-gambar tokoh idolanya dipasang serba miring dan mulut gambar tersebut semua diplaster hitam. Pada tembok sebelah kiri tergambar tiga binatang; semut, kucing, klabang, semua mulutnya berwarna merah.

Cerita ibu tadi menarik bagiku. Anaknya yang dulu begitu manis dan penurut berubah menjadi “pembangkang”. Hari itu aku banyak mendengar dan memahami yang diceritakan ibu tersebut. Suaminya mempunyai pandangan yang berseberangan dengan si Ibu, tapi karena kesibukan kantor menjadikan peranan Ibu memegang kendali untuk mengurusi anaknya ketika di rumah. Kemudian aku mengajak ibu dan suaminya tadi untuk sedikit mencerna gambar-gambar yang ada di kamar anaknya. Selanjutnya apa yang terjadi ?? silahkan bapak/ibu/teman yang membaca tulisan ini bisa mengartikan secara luas apa yang diinginkan anak dengan gambar-gambarnya tersebut!. Setelah pertemuan dengan Ibu dan suaminya, aku bertemu anak tersebut di kantin sekolah pada waktu jam ekstrakurikuler. Aku ngobrol banyak dengan sahabat kecilku. Sedikit pancingan, sahabat kecilku menceritakan kebosanannya di rumah. “Mamaku ki wonge njelehi tenan wes pak, persis koyo senapan AK-47!” begitu kata si anak. Aku mendengar si-“X” bercerita sambil jari telunjuknya sesekali mengketuk-ketuk meja, seolah-olah memberi sebuah pesan emosi tertentu pada setiap kata yang diucapnya.

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendampingi remaja memang sesuatu yang unik. Menjadi orang tua adalah panggilan dan mendampingi mereka adalah seni hidup. Mendampingi berarti; 1). kita SIAP untuk jadi pendengar aktif, tanpa menyela, penuh perhatian, dan menghormati kebebasan pribadi mereka, 2). Kita SIAP memberikan dorongan dan pujian, banyak dari kita kadang lupa memberikan pujian, yang ada dorongan yang terkesan menuntut.  3). Kita SIAP meluangkan waktu. kualitas dan kuantitas waktu merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan. AKU YAKIN BAPAK/IBU ORANG TUA SISWA DAN PENDIDIK YANG ADA SEKARANG INI ADALAH ORANG TUA SISWA DAN PENDIDIK PILIHAN, YANG TIDAK HANYA MENGANTARKAN SAHABAT KECILKU BERHASIL DI SEKOLAH TETAPI JUGA MEMBUATNYA NYAMAN DALAM BERBAGAI SITUASI SERTA MENDORONG TUMBUH KEMBANG MEREKA MENJADI PRIBADI YANG PRODUKTIF, UNIK DAN KREATIF

(by :Coan)

INILAH BOCAH PENGGANTI STEVE JOBS

Reza Wahyudi/Wicaksono Surya Hidayat – Selasa, 22 November 2011

KOMPAS.com — Setelah meninggalnya visioner dan pendiri Apple, Steve Jobs, semua orang bertanya-tanya siapakah yang mampu menggantikannya. Bukan untuk menggantikannya sebagai CEO Apple karena Apple telah menunjuk Tim Cook untuk jabatan tersebut.


Steve Jobs – Thomas Suarez (kanan)

Steve Jobs terkenal dengan pesona, kejeniusan, dan visi masa depannya. Karakter dan sifat Jobs inilah yang menjadi fokus semua orang sehingga memunculkan pertanyaan, siapa “The Next Steve Jobs”.

Pertanyaan tersebut sepertinya akan segera terjawab. Dalam sebuah acara sharing teknologi TEDx ManhattanBeach, seorang anak yang masih duduk di bangku kelas VI SD tampil memukau saat mempresentasikan produk ciptaan dan perusahaan startup-nya kepada hadirin. Dia penuh percaya diri dan punya bahasa tubuh yang mengingatkan publik terhadap mendiang Steve Jobs.

Anak ini bernama Thomas Suarez, seorang anak berusia 12 tahun asal California, AS. Dia adalah pendiri sebuah perusahaan startup CarrotCorp yang saat ini sedang mengembangkan aplikasi untuk sistem operasi Apple iOS.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Thomas Suarez ternyata memang seorang pengagum Steve Jobs. Dia telah tertarik membuat program komputer sejak taman kanak-kanak dan belajar secara otodidak beberapa bahasa pemrograman, seperti Phyton, C, dan Java.

Karya pertamanya, yaitu Earth Fortune, hadir pada akhir tahun 2010 lalu, sebuah program yang memungkinkan perubahan warna Bumi berdasarkan peruntungan penggunanya.

Saat ini, Thomas tetap fokus menimba ilmu di sekolah formal sambil tetap mengelola perusahaan CarrotCorp.

Dalam presentasinya di TEDx, ia sedang memaparkan produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan startup-nya itu. Selain memukau mereka yang hadir, Thomas juga membuat publik penasaran dengan memamerkan sebuah tagline yang berbunyi, “Uploading pictures will never be the. Coming soon”.

Apakah Thomas Suarez dapat menggantikan idolanya, Steve Jobs? Setidaknya dia mempunyai potensi untuk menuju ke arah sana.

Berikut penampilan Thomas Suarez dalam acara TEDx ManhattanBeach di youtube : http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=ehDAP1OQ9Zw