Siap…Siap…dan  Siap itulah kata yang selalu aku ucapkan untuk sahabat kecilku di tempat aku berkarya. Wajah manis, senyum simpul, tawa renyah, muka sayu, rintik air mata, marah, sinis,  itulah bingkai wajah sahabat kecilku ketika terhempas di ruang BK. Yaahhh begitulah……ruang kerjaku menjadi tempat menumpahkan kegalauan yang dirasa sahabat kecilku. Ruang kerjaku juga menjadi singgasana kedamaian, canda tawa bagi sahabat kecilku. Cerita satu ke cerita lain seolah menjadi alur pencarian yang tak pernah dan tak mungkin bisa terputus. Betapa senangnya aku ketika mereka begitu terbuka bercerita tentang semua yang pernah atau sedang mereka alami. Kata-kata khas yang keluar dari bibir polosnya adalah “pak anton ga akan mbocorin cerita ini kan?” secepat kilat aku langsung mengatakan “siap bos…. cerita ini hanya kita berdua yang tau, dan keluar dari ruang ini seolah-olah ga ada apa-apa ok”

Sahabat kecilku selalu gelisah ketika melihat tumpukan pelajaran tak pernah habis menindih pikirannya, tugas yang semakin banyak dan semakin sempit menghimpit ide kreatifnya. Ketika aku tatap dalam-dalam wajahnya, betapa lelah wajah kebanggaan  keluarga ini. Hari selasa di bulan Oktober, aku melihat salah satu sahabat kecilku duduk menangis di selasar samping kapel, kedua tangannya memegang kertas hasil ulangan, “DN ko sendiri, kenapa? Cerita dong sama pak anton ?, begitulah aku menyapa dan segera duduk disebelahnya. Dengan mata sembab serta meneteskan air mata, DN bercerita kalau nilai ulangannya tidak tuntas, dan takut ketahuan orang tua. Akhir cerita, aku bisa menangkap betapa terbebaninya DN. Pertama, ortu selalu mengatakan “kamu kurang apa? les private!, fasilitas belajar! semua sudah papa dan mama penuhi. Kedua, rasa malu dan iri dengan teman-teman padahal waktu SMP DN selalu juara kelas, Ketiga, takut tidak naik kelas. Kemudian aku coba yakinkan sahabat kecilku dengan cerita raport Alberth Einstein waktu SMA, dan tentunya ada cara lagi aku gunakan untuk menyakinkan sahabat kecilku tentang berani untuk gagal dan semangat untuk bangkit.

Aku pikir dengan cara seperti di atas, sahabat kecilku tidak terlalu terpuruk, dan waktu +6 jam DN di sekolah bisa digunakan untuk beraktifitas lainnya tanpa terbebani terus dengan kegagalan yang dialami. Setelah terlihat cukup bisa menerima serta mata tak sembab lagi, aku antarkan DN bergabung dengan teman-temannya di selasar kelas Kanisius. Hari itu aku merenung, apa yang bisa aku lakukan untuk sahabat-sahabat kecilku yang lain, mungkin mereka sedang menangis, putus asa, hilang kepercayaan diri, tapi aku tidak tahu dimana  mereka berada dan apa yang mereka rasakan. Andai aku dianugrahi Tuhan mata batin bak paranormal mungkin aku langsung tahu dan aku rengkuh kesedihannya.

Dalam anganku kadang aku berpikir, seharusnya syarat utama menjadi pendidik adalah murah senyum dan humoris. Senyum memang tidak masuk materi pelajaran. tapi senyum menjadi indikasi kebahagiaan pendidik dalam memberikan materi pelajaran terhadap siswanya. Jika siswa ikut tersenyum dan tertawa lebar berarti peluang menginternalisasi nilai-nilai pelajaran mudah terwujud. Tidak ada lagi siswa menangis takut karena ketidaktuntasan, jika pendidik mau dengan rendah hati dan sabar mendampingi siswanya. Sekali lagi jangan lupakan SENYUM.

Sabtu pagi bulan November, tepatnya habis istirahat pertama, bagian tata usaha member tahu kalau ada orang tua mencari aku PENTING! katanya. Siaaappp boss….begitulah kebiasaanku menanggapi. Selang 10 menit seorang bapak dan ibu datang ke kantorku dengan diantar satpam sekolah. Ibu ini rupanya sudah tidak sabar untuk bercerita. Tanpa memberi kesempatan aku mengucapkan selamat datang dan basa-basi sebentar, ibu tersebut langsung menumpahkan cerita kejengkelan terhadap anak laki-lakinya. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi tidak luput dari evaluasi sang ibu tersebut. Saking asiknya menceritakan kekesalan pada anaknya, kaki suaminya yang sedari awal mensenggal-senggol kaki ibu tersebut tak lagi dihiraukan. Perang kakipun berlanjut dan baru berhenti ketika sang suami memotong pembicaraan dengan seucap kata “mama itu terlalu berlebihan, ‘ga sadar kalau “X” sudah punya dunia sendiri” Ibu ini rupanya tidak suka kalau kamar tidur si-“X” di cat warna-warni, bahkan langit-langit kamar tak luput dari clontang-clonteng kuas. Gambar-gambar tokoh idolanya dipasang serba miring dan mulut gambar tersebut semua diplaster hitam. Pada tembok sebelah kiri tergambar tiga binatang; semut, kucing, klabang, semua mulutnya berwarna merah.

Cerita ibu tadi menarik bagiku. Anaknya yang dulu begitu manis dan penurut berubah menjadi “pembangkang”. Hari itu aku banyak mendengar dan memahami yang diceritakan ibu tersebut. Suaminya mempunyai pandangan yang berseberangan dengan si Ibu, tapi karena kesibukan kantor menjadikan peranan Ibu memegang kendali untuk mengurusi anaknya ketika di rumah. Kemudian aku mengajak ibu dan suaminya tadi untuk sedikit mencerna gambar-gambar yang ada di kamar anaknya. Selanjutnya apa yang terjadi ?? silahkan bapak/ibu/teman yang membaca tulisan ini bisa mengartikan secara luas apa yang diinginkan anak dengan gambar-gambarnya tersebut!. Setelah pertemuan dengan Ibu dan suaminya, aku bertemu anak tersebut di kantin sekolah pada waktu jam ekstrakurikuler. Aku ngobrol banyak dengan sahabat kecilku. Sedikit pancingan, sahabat kecilku menceritakan kebosanannya di rumah. “Mamaku ki wonge njelehi tenan wes pak, persis koyo senapan AK-47!” begitu kata si anak. Aku mendengar si-“X” bercerita sambil jari telunjuknya sesekali mengketuk-ketuk meja, seolah-olah memberi sebuah pesan emosi tertentu pada setiap kata yang diucapnya.

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Mendampingi remaja memang sesuatu yang unik. Menjadi orang tua adalah panggilan dan mendampingi mereka adalah seni hidup. Mendampingi berarti; 1). kita SIAP untuk jadi pendengar aktif, tanpa menyela, penuh perhatian, dan menghormati kebebasan pribadi mereka, 2). Kita SIAP memberikan dorongan dan pujian, banyak dari kita kadang lupa memberikan pujian, yang ada dorongan yang terkesan menuntut.  3). Kita SIAP meluangkan waktu. kualitas dan kuantitas waktu merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan. AKU YAKIN BAPAK/IBU ORANG TUA SISWA DAN PENDIDIK YANG ADA SEKARANG INI ADALAH ORANG TUA SISWA DAN PENDIDIK PILIHAN, YANG TIDAK HANYA MENGANTARKAN SAHABAT KECILKU BERHASIL DI SEKOLAH TETAPI JUGA MEMBUATNYA NYAMAN DALAM BERBAGAI SITUASI SERTA MENDORONG TUMBUH KEMBANG MEREKA MENJADI PRIBADI YANG PRODUKTIF, UNIK DAN KREATIF

(by :Coan)