Saat rehat menikmati snack dan teh, lalu merogoh saku celana hendak mengambil saputangan, baru saya menyadari keganjilan itu. Dompet saya tidak ada di sana.
 
Mungkinkah tertinggal di mobil? Saya mengajak teman yang membawa mobil untuk memeriksa. Sesudah tas digeledah, hasilnya nihil. Di mana ya? Di kamar penginapan? Bukankah kami sudah mengosongkan kamar, dan mengangkut semua barang bawaan, karena berencana langsung pulang sesudah makan siang nanti?

Ah ya, baru saya ingat. Semalam menjelang tidur, di luar kebiasaan, dompet itu saya susupkan ke bawah bantal. Dan paginya bantal itu tak tersentuh saat kami membereskan kamar.
 
Kami pun bergegas kembali ke penginapan. Isi dompet itu tak lain adalah uang saku perjalanan kami mengikuti sidang majelis daerah sinode gereja kami.

Jumlahnya tak sampai sejuta, namun jelas saya akan kelabakan kalau benar uang itu hilang. Belum lagi SIM dan KTP saya juga tersimpan di situ.
 
Sepanjang perjalanan, saya menenangkan hati. Sepertinya ada suara yang berbisik, “Jangan mengandalkan manusia, bersandarlah kepada Tuhan.” Saya tidak tahu apakah pegawai penginapan itu cukup jujur atau culas, namun yang pasti Tuhan itu baik.
 
Bagaimanapun, pikiran saya lumayan berkecamuk. Saya berusaha menepiskan pikiran, “Kenapa aku kejatuhan sial?” Saya mencoba bersikap gagah, “Apa yang Tuhan mau kupelajari dari peristiwa ini?”
 
Apakah saya mesti belajar tentang risiko keteledoran? Kok mahal amat? Lagipula, kalau itu mata pelajarannya, saya rupanya belum lulus-lulus juga.

Banyak keteledoran yang saya lakukan, baik yang tampaknya sepele maupun yang lumayan gawat seperti ini. Sepertinya ada suara yang menyindir, “Lalu, seberapa murah kehati-hatian itu?”
 
Saya pun membayangkan konsekuensi praktis bila dompet itu betul-betul melayang. Hm, uang sejumlah itu setara dengan honorarium menulis lebih dari lima puluh naskah renungan harian. Dan itu berarti tertunda lagi keinginan untuk mulai menabung. Ah, semoga saja….
 
Sesampai di penginapan, seorang pegawai berseragam hijau tampak sedang lalu-lalang membereskan kamar-kamar. Begitu turun dari mobil, saya bergegas menemuinya. “Pak, maaf, saya ketinggalan sesuatu.”
 
Orang itu tersenyum tanggap. “O ya. Tunggu saya panggil teman saya.”
 
Orang itu pergi, lalu tak lama kemudian muncul kembali bersama dengan seorang rekannya. Mereka mengajak saya ke kamar. Dari rekannya itulah saya menerima kembali dompet saya. “Tolong dihitung dulu, Pak, isinya,” pinta orang itu.
 
Melihat kembali dompet itu saja sebenarnya saya sudah senang. Segera saya buka, saya hitung lembaran lima puluh ribuannya. Pas. Masih lengkap, juga kartu-kartunya.
 
“Terima kasih banyak, Pak,” kata saya penuh syukur. “Tuhan memberkati.”
 
Saya bersyukur bukan hanya karena dompet itu kembali dalam keadaan utuh.

Saya bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang yang jujur, yang tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti bagi saya, uang sejumlah itu tentunya lumayan berarti bagi mereka — terlebih di tengah naiknya harga berbagai kebutuhan sehari-hari seiring dengan melonjaknya harga BBM.

Ternyata di negeri yang kental dengan KKN ini, masih bisa dijumpai wong cilik yang tak hendak mematikan hati nuraninya.
 
Saat meninggalkan Bukit Asri, penginapan kecil di Jl. Setiabudi, Semarang atas itu, hati saya betul-betul asri.
 
Namun, rupanya pelajaran tentang uang pagi itu belum rampung. Sesampai di gereja tempat acara diadakan, sedang berlangsung sidang pleno kedua. Salah satu agendanya, pembacaan laporan keuangan oleh bendahara.
 
Bendahara antara lain mengingatkan komitmen dan konsistensi para pejabat gereja dalam membayar iuran wajib, yang akan menunjang kelancaran pelaksanaan program bersama. Selama ini pembayaran iuran tersebut bisa dibilang tersendat. Ia juga menghimbau, pejabat yang mengalami kelimpahan berkat materi, kiranya secara sukarela menyumbang melampaui jumlah minimal.
 
Ketika dibuka forum curah pendapat, sebuah masukan membuat saya tercenung.

Seorang pendeta mengutarakan isi hatinya secara blak-blakan. Karena duduk di balkon, saya tidak dapat melihat sosok bapak ini. Namun, menilik uraiannya, kemungkinan besar penampilannya amat bersahaja di tengah gedung gereja yang megah ini.
 
Saya tidak ingat persis kata-katanya, namun pada pokoknya bapak itu menyatakan bahwa jumlah minimal iuran yang ditetapkan oleh sidang masih terasa memberatkan baginya. Ia mengakui, persepuluhan yang terkumpul dari jemaatnya setiap bulan tidaklah seberapa. Kalau masih harus membayar iuran wajib itu — yang sebenarnya hanya senilai tiga potong lumpia — ia akan kesulitan membayar tagihan lainnya. Suara bapak itu tidak terdengar memelas. Suaranya lantang, apa adanya: menandaskan sebuah fakta.
 
Lalu saya teringat pada kesaksian pendeta yang menyampaikan firman Tuhan pagi tadi. Pendeta ini berasal dari sebuah pulau terpencil di wilayah timur Indonesia. Setelah puluhan tahun melayani, ia tergolong hamba Tuhan yang sukses dan diberkati. Suatu ketika seusai berkhotbah ia ditemui seorang pengacara kondang. Pengacara yang juga kolektor mobil mewah ini merasa tertempelak oleh khotbah yang baru saja didengarnya. Singkat cerita, ia meneken selembar cek sebagai persembahan kasih bagi gereja itu. Nilainya? — Empat M.
 
Saya menghela napas. Bagaimana menjelaskan kesenjangan yang sedemikian lebar ini? Kerap saya mendengar kata kunci itu: “iman” — bahwa kelimpahan materi berbanding lurus dengan kesalehan dan derajat iman kita. Terus terang saya agak cemas dengan perhitungan iman secara matematis seperti itu. Patutkah Pendeta A dinilai sebagai kontet secara rohani, sedangkan Pendeta B seorang raksasa iman — semata-mata karena kondisi keuangan mereka? Bagaimana pula saya mesti menakar kadar keimanan saya sendiri?
 
Lebih aman rasanya memandang kondisi keuangan kita sebagai sesuatu yang relatif netral. Entah kelimpahan entah kekurangan, masing-masing mengandung risiko. Kemiskinan bisa membuat orang menyumpahi Tuhan, kekayaan pun bisa membuat orang pongah dan berlagak tidak membutuhkan Tuhan. Jadi, sikap kita terhadapnyalah — bersyukur atau bersungut-sungut, menggunakannya secara egois atau mengelolanya secara bertanggung jawab sebagai titipan Tuhan — yang menentukan apakah uang itu menjadi berkat atau laknat. Bukankah begitu? (Dimuat di Sinar Harapan/ PD Immanuel Jakarta)