“Aku akan pergi!” Pemuda itu berteriak sambil membanting pintu kamar Melina. Dengan sisa suaranya, Melina, sambil menangis memanggil sang pemuda. Namun, pemuda itu telah menghilang dan Melina merasa dunianya sudah hancur saat itu. Hidupnya telah berakhir.

Waktu berjalan begitu cepatnya. Tahun 1976, seorang bayi perempuan lahir dan dinamai Melina. Ia lahir dalam keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Ketika berusia 5 tahun, ayahnya meninggal dunia dan setahun kemudian, ibunya meninggalkan dia untuk bekerja di Malaysia. Melina kecil terpaksa dititipkan pada tantenya.

Hampir setiap hari Melina mendengar hardikan dari tantenya, “Kamu harus rajin bekerja! Jangan malas! Jangan bermain terus! Kamu harus bekerja! Ayo ngepel, setelah itu langsung cuci piring!”

Melina tidak bisa mengelak. Hari demi hari dia lalui dengan pekerjaan rumah yang menumpuk untuk diselesaikan. Terkadang, kerinduan akan kehadiran sang mama memenuhi hatinya, membuatnya merasa begitu pilu bila melihat teman-teman sebayanya menikmati kasih sayang dari orang tua mereka, namun sang mama tidak kunjung datang. Penantian itu sia-sia.

Sebelas tahun berlalu sejak kepergian sang mama ke Malaysia, Melina kini sudah berumur 16 tahun dan baru saja lulus SMP. Melina kemudian melanjutkan sekolahnya ke SMEA dan salah seorang pamannya bersedia membantu membiayai hidupnya. Melina kemudian kos di daerah Cawang, Jakarta, berdekatan dengan lokasi sekolahnya. Berpisah dari sang tante telah memberikan Melina kebebasan karena dia tidak lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah yang selama bertahun-tahun begitu berat dia rasakan. Melina juga bebas dari segala omelan dan hardikan yang hampir setiap hari dia dengar. Kebebasan yang seperti ini yang dia impikan selama bertahun-tahun. Melina merasa siap untuk merenda masa depannya yang cerah.

Namun ada satu hal yang tidak dia bisa pungkiri. Jauh dalam dirinya ada kerinduan yang dalam akan kasih sayang. Papanya yang pergi pada usianya yang masih sangat belia, membuatnya rindu akan figur seorang pria yang mampu memberinya perhatian dan rasa aman. Sementara kepergian yang mama yang begitu lama, membuatnya kehausan akan kelembutan kasih sayang. Hari-hari sekolah yang begitu menyenangkan, kebebasan yang tiba-tiba dia dapatkan setelah bertahun-tahun terkungkung membuat Melina terlena. Suatu hari dia berkenalan dengan seorang pria. Di matanya, pria ini begitu memesona dan baik. “Dia adalah pria idaman. Dia begitu baik dan jujur. Mau menerima saya apa adanya, walau dia bisa mencari tahu siapa sebenarnya saya, bagaimana latar belakang saya, tapi pria ini mau menerima apa adanya,” batin Melina.

Bagi Melina kehadiran pria ini membuat hidupnya terasa lengkap. Setelah bertahun-tahun dia menjalani hidupnya dalam sepi dan tekanan, kini dia merasakan kegembiraan. Ada teman untuk berbagi cerita. Ada seseorang yang menjaga dirinya. Ada pria untuk berbagi kasih. Pria itu sudah datang dan sungguh membuatnya lengkap. Cintanya semakin bertambah saat demi saat. Baginya inilah puncak dunia. Inilah hidup yang sebenarnya. Sebenarnya, ini adalah saat di mana Melina berada di tepi jurang kehancuran. Jurang yang sangat dalam dan Melina tidak menyadarinya.

Rasa rindu sekaligus pedih karena kepergian sang mama dan rasa kehilangan karena ditinggalkan papa kini mulai tertinggal jauh di belakang. Melina memberikan seluruh hati dan jiwanya pada sang pria pujaannya. Hubungan mereka semakin erat sampai satu ketika Melina menyerahkan kehormatannya pada sang pria. “Setelah kami melakukan perbuatan terlarang, dia begitu baik kepada saya. Dia seperti malaikat bagi saya dan kasih sayang pun saya dapatkan dari dia. Citra papa dan mama saya dapatkan dari dia. Dia begitu sayang terhadap saya,” kenang Melina.

Pria yang dipuja Melina bukanlah pria yang baik sebenarnya. Lambat namun pasti, sang pacar mulai membawa Melina kepada hal-hal yang buruk. Ganja adalah hal pertama yang mulai dikenalkan pada Melina.

“Ayo pakai. Ini enak sekali. Jangan takut. Ini bukan apa-apa kok.” Begitu selalu sang pacar meyakinkan Melina. Walaupun agak ragu, akhirnya mencoba ganja dan dia mulai menikmatinya. Kehidupan yang bebas yang seperti ini dijalani Melina. Ia menjalani kehidupan bebasnya dengan diam-diam. Sang paman tidak pernah mengetahui keadaan Melina yang sebenarnya. Di mata pamannya, Melina adalah gadis baik-baik yang rajin ke sekolah.

Sementara itu ganja tidak lagi memberikan kepuasan bagi Melina dan pacarnya, kini mereka mulai mencoba untuk memakai ekstasi. Diskotik yang sebelumnya tidak pernah didatangi Melina, kini menjadi tempat untuk menghabiskan malam bersama sang pacar. “Saya bisa merasakan apa yang tidak pernah saya rasakan. Saya bisa tidak memikirkan keluarga. Saya bisa enjoy!” kata Melina. Melina mulai mengambil jarak dengan paman dan juga dengan adik-adiknya. Melina tahu kalau hubungannya dengan sang pacar tidak akan direstui keluarga. Obat-obatan membuatnya berani untuk bersikap cuek terhadap keluarga. Baginya yang penting dia bisa bersenang-senang dengan sang pacar. Kebahagiaan seperti inilah yang lama dia rindukan. Sekarang ketika semuanya sudah diperoleh, mengapa harus dilepaskan? Melina tidak menyadari bahwa dirinya sudah jatuh semakin dalam ke jurang kehancuran. “Saya tidak merasa bersalah. Yang saya rasakan adalah kasih sayang dan perlindungan dari pacar saya. Itu yang selalu saya impikan,” Melina melanjutkan. Terkadang, kerinduan akan kehadiran sang mama menyeruak dalam batinnya. Namun, segera ditepis oleh kenikmatan hidup yang saat itu dijalaninya. “Apa pun narkoba yang dia berikan, saya terima dengan senang. Terasa enak sekali dan membuat saya tidak lagi dibebani pikiran tentang keluarga,” tutur Melina.

Namun, walau Melina begitu baik menutupi jejak hubungannya dengan sang pacar, pamannya akhirnya dapat mencium rahasia Melina ini. “Paman sudah bilang kalau kami tidak bisa menerima hubungan kamu dengan laki-laki itu! Sekarang juga kamu harus putus hubungan dengan Dia!” Hardik sang paman. Melina kemudian mengambil langkah nekat. Melina kabur dari rumah kos dan hidup bersama dengan pacarnya. Saat itu kecanduan Melina akan narkoba sudah tinggi. “Bersama pacar saya memakai narkoba. Saya pakai ekstasi dan ganja dengan dosis yang semakin tinggi. Sering saya kesakitan karena ketagihan narkoba yang tidak terpenuhi. Saya dan pacar mulai sering ribut,” kata Melina. Ia mulai melihat kepribadian pacarnya yang sebenarnya. Pria yang dulu disangkanya begitu baik di matanya mulai terlihat keburukan sifatnya.

Pada tahun itu juga mama Melina yang sudah belasan tahun tinggal di Malaysia pulang ke Indonesia dan mencari Melina. Melina kemudian pulang meninggalkan pacarnya dan tinggal bersama sang mama. Kepada mamanya, Melina mengakui keadaan dirinya saat ini. “Saat saya mengakui kalau saya sudah tidak perawan lagi dan sangat kecanduan narkoba, mama sangat sedih. Mama bisa mengerti keadaan saya dan dia bilang supaya saya tidak lagi kembali ke pacar saya,” lanjut Melina. Ia memang tidak kembali pada sang pacar, tetapi dia tidak bisa melepaskan diri dari narkoba. Setiap hari Melina masih memakai narkoba. Rasa sakit yang menyerangnya setiap kali dia ketagihan narkoba, tidak dapat dia tahan dan selalu membawanya kembali untuk memakai narkoba.

Suatu hari Melina kabur lagi dari rumah sang mama dan pergi menemui pacar lamanya. Mereka kembali menjalin hubungan. Pacar Melina yang tahu kalau Melina sudah sangat kecanduan narkoba memperlakukan Melina dengan seenak hatinya. Melina merasakan kepedihan dan sakit hati atas perlakuan pacarnya ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Melina ingin meninggalkan pacarnya itu, tapi ketergantungannya pada narkoba menahannya untuk tidak meninggalkan laki-laki itu. Padahal secara fisik keadaan Melina sungguh menderita. “Saya mengalami kesakitan yang luar biasa. Bahkan kalau mau muntah juga sakit! Sungguh sakit sekali!” tuturnya. Melina tahu kalau dia ingin bebas dari narkoba, dia harus meninggalkan laki-laki ini karena setiap kali bertemu, mereka pasti akan memakai narkoba. Namun, Melina membutuhkan kasih sayang dan Melina mendapatkannya dari pacarnya.

Setiap hari Melina hidup di alam maya. Ketagihan demi ketagihan terus menerus datang menyerang Melina. Pikiran dan mental Melina sudah hancur. Pikirannya terpusat pada narkoba. Setiap hari harus memakai narkoba. Pacarnya terus mengintimidasi Melina. “Tanpa saya kamu bukan apa-apa! Kamu membutuhkan saya!” jelas pacarnya. Melina tidak lagi bisa berpikir jernih. Dia ingin meninggalkan semuanya, tetapi tidak bisa.

Melina memang jarang berada dalam keadaan sadar sepenuhnya terhadap dirinya. Namun, kala kesadaran itu muncul, pertanyaan yang ada di benaknya adalah bagaimana kalau dia mati? Jauh di dalam hatinya ada kerinduan. Ada kekosongan akan kasih, namun tidak tahu harus berbuat apa. “Tuhan … saya mau lepas dari obat-obatan ini. Saya mau lepas … tapi tidak bisa. Tolonglah saya Tuhan,” ratap Melina saat itu.

Tuhan sudah menantikan Melina begitu lama untuk kembali kepada-Nya. Tuhan selalu mendengar jeritan hati setiap anak-anak-Nya. Tuhan hadir dalam kehidupan Melina. Pada suatu hari, ketika itu Melina baru saja ditinggalkan oleh pacarnya. Sang pacar mengancam untuk meninggalkan Melina, dan biasanya pada saat seperti itu Melina menjadi histeris karena ketakutan bila sang pacar benar-benar meninggalkannya. Namun siang itu, Melina yang sudah merasa lelah dengan hidupnya selama ini, datang kepada Tuhan. Melina membuka hatinya bagi Tuhan Yesus. Siang itu satu hal yang indah terjadi. Tuhan Yesus hadir dalam kehidupan Melina, memberikan kepada Melina kehidupan yang baru. Rasa ketakutan digantikan oleh kelegaan. Rasa bersalah sirna dihapuskan damai sejahtera. Tuhan sudah mengampuni dosanya. Melina sungguh takjub. Dia merasakan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh nyata. “Tuhan Yesus benar-benar ada dan saat itu Tuhan memberi kekuatan kepada saya. Kerinduan saya kepada pacar saya hilang. Nafsu kedagingan dan ketagihan terhadap narkoba hilang lenyap. Tidak ada lagi tekanan-tekanan masa lalu yang menekan saya. Bahkan ancaman-ancaman dari pacar saya bahwa hanya dengan dia saja saya bahagia … hilang!” kenang Melina. Satu hal yang luar biasa. Karena sudah bertahun-tahun Melina terikat oleh narkoba dan kehidupan yang bebas, dia sendiri merasa tidak akan bebas dan mulai dihantui oleh rasa putus asa, namun Tuhan memulihkan Melina mengampuni dengan seketika! Sungguh ajaib kuasa Tuhan Yesus.

Kasih yang selama ini Melina cari sudah dia temukan di dalam Tuhan Yesus. Jiwanya yang selama bertahun-tahun lelah mencari kasih dan damai yang sempat terisi oleh kasih sang pacar dan narkoba, kini telah menemukan perhentian. Tuhan Yesus telah mengisi kekosongan dalam jiwanya.

Melina kemudian kembali kepada mama dan adik-adiknya. Melina meninggalkan kehidupannya yang lama dan menjalani kehidupan yang baru. Melina kini bekerja pada sebuah perusahaan di Tangerang. Masa lalu yang pahit, yang membentuk Melina remaja menjadi pribadi yang haus kasih sayang dan akhirnya membawanya pada narkoba, kini telah lenyap. Masa lalu itu kini tidak lagi menghantui jiwanya yang bebas merdeka dan penuh kasih di dalam Tuhan Yesus. Bersama Tuhan Yesus Melina menyongsong hari-harinya yang penuh harapan di masa depan.

[Diambil dan disunting seperlunya dari:/ Judul buku: 10 Mukjizat yang Terjadi pada Orang Biasa/ Penulis: Basuki, Lasri Yuliana, dan Cacuk Wibisono/ Penerbit: Yayasan Cahaya Bagi Negeri Indonesia, 2001/Halaman: 81-87/ i-kan-kisah]