Seorang ayah adalah teladan bagi anak-anaknya, begitu juga dengan Armand. Baginya, ayah adalah sosok yang luar biasa.

“Papi itu adalah sosok yang menyenangkan. Buat aku, papi amazinglah. Amazingnya karena aku bisa melihat dia memiliki prioritas yang baik ya buat keluarga,” kata Armand membuka kesaksiannya hari itu.

Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Sebuah kabar mengejutkan terjadi pada sang ayah.

“Papi itu divonis kena cancer itu di tahun 2008 akhir. Angka cancer-nya berlipat kali ganda dari angka yang normal. Itu seharusnya 8, tetapi papi saat itu angkanya sudah 80. Jadi sudah 10 kali lipat”

Sang ayah dibawa ke China untuk dioperasi. Namun, hal itu tidak dapat membuat beliau menyerah.

“Kan papi saya orangnya tidak bisa diam. Hampir setiap pasien dari Indonesia dikunjungi oleh papi. Dan ini yang menyenangkan dari kehidupan papi sebenarnya”

“Kalau ada pasien baru didatangin. Di say hello sama papi, padahal papi saat itu sedang sakit. Beliau sedang sakit dan tetep mengetok kamar itu. Papi bilang, ‘eh, gimana hari ini? ‘Ah sudah tenang aja, Tuhan Yesus pasti sembuhin. Yo Wis, sekarang kita nyanyi yuk’”

“Itu padahal kondisinya papi sedang sakit loh, sampai nangis malah beliau karena keadaannya tersebut. Tapi, kok papi masih mau ya untuk datang, kemudian care sama orang. Nah ini yang dahsyat, papi masih peduli gitu loh sama orang”

Tanggal 25 Mei 2010 sang ayah dibawa kembali ke China dan hasilnya sangat mengejutkan.

“Di foto lagi, ternyata cancer-nya sudah menyebar sangat parah sekali. Di seluruh dada sebelah kiri, itu kuning semua. Nyala semua dan itu menandakan bahwa kanker sudah menyebar cukup parah.”

“Pada tanggal 29 siang kira-kira, papi ngajakin pergi, ‘Yuk, kita jalan. Carilah sesuatu. Ini masih banyak hal yang harus kita cari. Kita musti olehin ini itu ini itu’. Dan hebatnya, beliau memilihnya sendiri satu persatu sendiri. Ada sekian ratus item, papi melakukannya sendiri”

Sejak hari itu, empat hari kemudian pada 2 Juni 2010, sang ayah dipanggil Tuhan.

Sang ayah telah pergi, namun kenangan akan beliau tetap melekat di hati Armand.

“Dan satu hal yang tidak pernah aku lupakan itu, pada waktu 12 Juli 2003. Itu adalah tanggal dimana aku menikah. Papi cuma bilang, ‘Aku bangga Mand sama kamu. Sungguh aku bangga sama kamu,’ itu adalah kalimat paling berharga bagi aku ya”

“Papi care banget, ‘ini loh aku punya makanan enak nih’, ‘ini loh aku punya baju bagus Arsya’. Hampir jarang beliau memikirkan untuk dirinya sendiri”

Teladan yang diberikan sang ayah dirasakan Armand sangat berdampak kepada hubungannya dengan anaknya.

“Aku jadi ngerti gitu, ‘oh ya papi aku telah melakukan sesuatu yang baik. Jadi aku belajar memprioritaskan anakku sekarang’. Aku musti belajar untuk meninggalkan kadang-kadang apa yang aku sukai. Aku suka tanya sama istriku, ‘Kapan tanggal ambil raport’ dan tanggal ambil raport itu aku langsung masukkan ke dalam jadwal”

“Kalau dia udah ulang tahun, wah itu udah gak bisa diganggu gugat. Mau ada apa aja, no way deh. Aku mau coba hari ini, hari papa sama Arsya. Jadi dalam sebulan, ada satu hari khusus dimana aku sama dia pergi. Dan paling menyenangkan, beberapa minggu lalu, waktu aku mau mandiin anakku tu, ‘Pa, tahu gak pa, apa yang paling Arsya suka dari papa? Papa tuh selalu senang buat Arsya dan Arsya selalu senang buat papa. Dan kedua pa, papa tuh sayang sama Arsya’

“Buat aku sebagai seorang ayah gitu ya, dengar kalimat itu, perkataan itu dari seorang anak, wow power full banget gitu,” ujar Armand Harijanto menutup kesaksiannya.