Apakah anda senang menghadapi masalah besar?  Anda ada di dalam kekalutan?  Ijinkan saya menceritakan kisah Raja Salomo dan Panglima Benaya Bin Yodaya.

Raja Salomo terkenal amat bijak. Dia senang akan pengetahuan. Suatu hari ia ingin menggoda Benaya, panglimanya yang sangat hebat dari segi ilmu perang, tapi menurut Salomo kurang berhikmat.

“Benaya, saya menugaskan engkau mencari Cincin Sakti”

“Apa kesaktian cincin ini, Baginda?”

“Hanya dengan memandang cincin ini, orang gembira akan menjadi sedih, dan orang sedih akan menjadi gembira”, jelas Salomo.

Maka berangkatlah Benaya ke seluruh pelosok kerajaan, mencari Cincin Sakti ini. Upayanya nyaris sia-sia, sampai suatu hari ia bertemu seorang kakek pedagang yang datang dari jauh. Dengan berharap cemas, Benaya bertanya mana tahu sang kakek ini tahu Cincin Sakti.  Mendengar penjelasan Benaya, sang kakek mengeluarkan cincin emas dan mengukirkan tiga kata di situ, lalu menjualnya kepada Benaya.

Benaya membacanya dan tersenyum. Pencariannya telah berakhir.  Segera ia datang ke singasana Raja Salomo.  Melihat Benaya datang, Raja dan para menteri tersenyum geli. Mereka merasa berhasil mempermainkan Benaya.

Dengan senyum lebar Raja Salomo memandang cincin itu, dan saat ia membaca ketiga kata yang terukir di sana, wajahnya berubah cemberut. Di situ tertulis: “Gimel Zayin Yud”, artinya “Inipun akan berakhir!”. This, too, shall pass.

Raja Salomo menyadari, semua kehebatannya, semua hikmatnya, akan berakhir.  Suatu saat ia akan kembali menjadi debu.  Wajahnya berubah dari gembira menjadi sedih.  Persis seperti yang ia minta pada Benaya.

Tapi tiga kata itupun menjadi sumber kekuatan bagi begitu banyak orang yang menderita. “Inipun akan berakhir …”

Ini menjadi sumber kekuatan Abraham Lincoln ketika menghadapi masalah perang sipil.  Ini menjadi kekuatan Martin Luther King saat menghadapi penindasan terhadap kulit hitam. Dan Presiden Obama pun menggunakan “cincin sakti” ini saat menghadapi krisis ekonomi yang hebat.

Banyak kita sangat tertekan karena meras bahwa masalah yang kita hadapi, kesulitan yang kita alami itu, penyakit yang kita idap, situasi buruk yang melingkupi kita itu bersifat permanen.  Selama-lamanya.

Padahal tidak.  Kata Cincin Sakti itu juga “Gimel zayin yud..”, this, too, shall pass.  Tidak ada yang kekal. Termasuk kesulitan kita.

Jadi saat pikiran kita diganggu dengan beban masalah.  Jangan kuatir.  Itu cuma sementara.  Itu cuma transisi.  Itu akan berakhir. Buang jauh-jauh pikiran bahwa masalah kita itu permanen. This, too, will pass … (Armein Z. R.)