Anda dan sahabat Anda sedang menginap di sebuah hotel berbintang. Di tengah malam ketika semua orang sedang tertidur lelap, tiba-tiba terjadi kebakaran di tempat itu. Teman Anda terbangun dan menyadari bahaya itu. Dia mendengar tanda peringatan dan berhasil menemukan jalan keluar dari kobaran api. Tapi sayangnya dia terlalu sungkan untuk membangunkan Anda. Dia takut Anda akan marah karena tidur Anda terganggu. Jadi dia membiarkan Anda tetap di sana, tertidur lelap dalam ruangan yang telah dikepung api.

Apa pendapat Anda mengenai sahabat Anda itu? Anda pasti akan sangat marah kepadanya bahkan mungkin menganggapnya sudah gila. Bagaimana mungkin dalam kondisi yang begitu mendesak dan berbahaya, dia takut mengganggu tidur Anda? Sekarang sebelum Anda meneruskan omelan Anda terhadapnya, mari kita melihat pada diri kita sendiri. Apakah kita juga telah menjadi “sahabat yang kurang waras” bagi saudara, keluarga, teman-teman, atau rekan kerja kita?

Apakah kita takut membuat teman kita tersinggung bila kita mengatakan padanya bahwa dia harus bertobat dari dosanya dan perlu diselamatkan? Apakah kita malas bertengkar dengan isteri, suami, anak atau orang tua kita, jika kita membicarakan soal Kristus? Takutkah kita dianggap terlalu fanatik oleh rekan bisnis kita, bila kita bersaksi tentang Yesus kepadanya? Bila jawabannya adalah iya, itu artinya kita sedang takut membangunkan mereka sehingga kita memilih untuk meninggalkan mereka dalam kobaran api. Itu juga sama artinya kita tidak benar-benar menyadari betapa kritisnya kondisi yang tengah mereka hadapi.

Bukan sebuah kebetulan bila Tuhan mempertemukan kita dengan orang-orang yang belum percaya. Mereka membutuhkan Tuhan, dan Tuhan memberi diri-Nya kepada mereka melalui kita. Ucapan kita yang selama ini tertahan, mungkin akan menyelamatkan hidup mereka selama-lamanya. Jadi, jangan bungkam.

Ekspresi kasih yang paling dalam kepada sesama adalah dengan mengenalkan Yesus kepada mereka. (TMS/renungan-spirit.com)