TempoInteraktif – SELASAR SD Inpres Wasior mulai dipenuhi siswa. Mereka datang dengan payung atau mantel, diantar orang tua atau bersama teman. Gerimis sisa hujan semalaman masih menitik. Hari itu, Senin 4 Oktober 2010, sekolah bersiap menggelar upacara bendera.

Ferry Imbiri muncul dan menyapa anak didiknya. Baju dinas hijau guru kelas 6 ini agak basah. Ferry, 38 tahun, menaksir setidaknya ada 30 siswa yang sudah datang pagi itu. Di kelas lain, Sefnath Renmaur, guru agama Kristen, juga sudah hadir. “Pak Guru, apakah kita tetap laksanakan upacara?” tanya Ferry. “Kali di belakang meluap, saya takut makin besar.”

Keduanya mendiskusikan kemungkinan memulangkan anak-anak. “Tunggu kepala sekolah dulu,” kata Renmaur. Ferry setuju. Tapi air di parit itu kian naik saja. Pria berperawakan kecil itu memeriksa sekali lagi. Pada 2008 hujan pernah mengguyur semalaman, tapi air di kali kering itu hanya terisi setengahnya. Kali ini air hampir tumpah di bibir selokan.

Ferry akhirnya mengambil keputusan: ia menyuruh anak-anak pulang dan berpesan agar mereka memberi tahu siswa lain yang bertemu di jalan agar tak usah ke sekolah. Pelajaran hari itu ditiadakan. “Air sudekat, kalian pulang saja,” kata lulusan program pendidikan guru SD Universitas Cendrawasih di Manokwari ini.

Setelah sekolah kosong, Ferry mengajak Renmaur memeriksa bronjong Sungai Kiot (artinya air terjun) di dekat bukit, 300 meter dari sekolah. Berkaus singlet dan celana pendek, keduanya menambal penahan sungai yang sehari-hari dipakai anak-anak terjun, berenang, dan main prosotan. Bronjong dari batu-batu kali itu sudah menganga setengah meter.

“Pak Guru, sini minum kopi dulu,” itu suara seorang ibu dari rumah dekat sungai.

“Ya, Mama, terima kasih,” sahut Ferry. Keduanya menepi ke teras. Ferry meraih cangkir dan meniup uap kopi yang masih mengepul.

Belum sampai gelas itu menempel di bibirnya, ia mendengar suara gemuruh dari arah gunung, mendenging seperti bunyi pesawat akan lepas landas. Tentu itu bukan suara pesawat, melainkan gemuruh air cokelat yang tumpah dari ketinggian 25 meter yang bergulung-gulung menghambur ke arahnya.

Ferry meletakkan gelas dan berteriak. “Air, air, banjir, lari, lari….” Ia melesat ke arah rumahnya di samping sekolah. Sepanjang jalan ia berteriak banjir dan lari. Orang-orang berhamburan. Ia menoleh ke belakang dan melihat air menyambar apa saja yang dilewatinya: rumah, manusia, tiang listrik, saung Natal….

Laju bah itu lebih cepat ketimbang ayunan kakinya. Belum sempat ia meraih gerendel, air menerjang membanting tubuhnya ke pintu. Daaar. Pintu hancur, jendela-jendela ambyar. “Mana adikmu, mana adikmu?” Ferry hanya melihat anak sulung, anak ketiga, dan adik ipar perempuannya termangu di atas meja. “Lari cepat, lari cepat…” Ia raih tangan ketiganya lalu menghambur menjebol jendela belakang.

Di luar, jalanan dan halaman sudah penuh air. “Tingginya seleher saya, arusnya deras sekali,” kata laki-laki bertinggi 165 sentimeter ini. Ia pun berjalan mengapung mengikuti arus ke arah pelabuhan. Ferry pasrah anak laki-laki keduanya terseret air dan mungkin tak selamat. Istrinya tak ada di rumah karena menginap di rumah saudara di Manokwari, menunggu detik-detik kelahiran anak keempat mereka.

Di tengah jalan ia lihat seorang tetangga, Wiwi Tourey dan dua anaknya, terjebak reruntuhan rumah. “Pak Imbi, tolong kami, tolong kami….” Dengan satu tangan memegang tiga anak, Ferry Imbiri berenang mendekati mereka. “Pegang tangan saya,” katanya kepada ibu itu.

Namun, belum sempat mereka berenang lagi, dari rumah sebelah terdengar orang mengerang. Evy Tourey, teman guru di SD Inpres Wasior, tersimpuh dengan kaki mengucurkan darah. Engkel kaki kanannya tergores seng hingga uratnya putus ketika ia berusaha berjalan melawan arus. Ferry berteriak agar Evy mengulurkan tangan.

Mereka berdelapan mengarungi sungai mengikuti arus menuju pelabuhan. Tangan Ferry penuh manusia: tiga di kiri dan empat di kanan. “Di tengah jalan, saya lihat mayat-mayat mengapung di samping kami,” katanya dengan suara tercekat. Ia tahu itu jasad tetangga yang rumahnya dekat sungai. “Saya terpejam sepanjang jalan,” katanya.

Sampai juga mereka di pelabuhan Teluk Wondama. Ferry memperkirakan jarak satu kilometer itu mereka tempuh 20 menit dengan terantuk batu dan kayu. Arus dekat muara tak terlalu deras karena tertahan ombak pantai. Kapal-kapal nelayan penuh orang yang tiba lebih dulu. Tangis pecah, jeritan melengking. “Jangan ke mana-mana, tunggu Papa di sini,” kata Ferry.

Ia bergegas menyusuri sungai yang sudah berkurang airnya. Ia terduduk lemas di reruntuhan rumahnya. Lima rumah di sekitar lenyap. Anehnya, hanya rumah, perkantoran, dan minimarket yang hancur. Sementara masjid, gereja, dan sekolah luput dari terjangan bah. Ferry pun bergegas ke masjid Wasior di seberang sekolah, setelah memastikan tak ada harta yang bisa diselamatkan.

Ia berteriak-teriak memanggil anaknya. Di masjid itu Ferry melihat anak kelas 2 SD itu bergelantungan di kusen dengan wajah ketakutan. Ferry memburu dan memeluknya. Rupanya, ketika air menerjang rumah, anak ini berinisiatif lari lebih dulu.

CERITA heroik Ferry Imbiri menyebar ke pojok-pojok Wasior. Orang-orang tua murid berterima kasih kepadanya karena menyuruh siswa pulang pada saat yang tepat, setengah jam sebelum bah menerjang. “Kalau tak diliburkan, anak-anak mungkin sudah terseret arus,” kata David Lian, warga pelabuhan. Ia bersama keluarganya kini tinggal di hunian sementara Kabou karena rumah mereka tersapu sampai ke fondasinya.

Titi Wayse mendengar cerita tentang Ferry dari tetangga yang lain. Rumah Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Teluk Wondama ini 200 meter di depan rumah Ferry, atau dua meter dari Kali Kiot. Dapur rumah Titi hancur dan ia mengungsi ke Manokwari.

Sebagai pejabat di Teluk Wondama, Titi mengurus 5.916 pengungsi yang ditampung di lapangan Kodim Manokwari. Dari tenda-tenda pengungsi itulah ia mendengar cerita para saksi mata bagaimana Ferry menyelamatkan tetangganya. “Semua orang bercerita tentang penyelamatan yang dilakukan Pak Ferry,” katanya.

Ferry pun terkenal di Wasior. Ia guru yang disukai murid karena keramahan dan kelembutannya. Orang suku Waropen yang dipanggil “Pak Guru Kecil” di Wasior ini juga dikenal sebagai seniman dengan mendirikan sanggar tari Manai, yang anggotanya anak-anak muda Wasior. Ferry dan rombongannya pernah diundang ke Istana Negara untuk membawakan salah satu tarian Papua.

SETELAH terkatung-katung tiga hari di kapal tongkang, warga Wasior yang selamat diangkut dengan kapal ke Manokwari. Ferry dan anak-anaknya menumpang kapal Papua Tiga dengan celana dan kaus yang kering di badan. “Harta saya yang tersisa, ya, kaus dan celana pendek robek-robek ini saja,” katanya kecut.

Ia berlayar ke Manokwari, sepuluh jam dari Wasior, untuk menyongsong istrinya. Sial. Di dekat kepulauan Rumberpon, empat jam lagi ke pelabuhan Manokwari, mesin mogok. Kapal yang mengangkut seribu orang itu berhenti di tengah laut delapan jam.

Penumpang kapal itu bukan hanya orang yang selamat dari banjir, tapi juga beberapa onggok mayat yang belum dibungkus. Mayat-mayat itu mulai gembung karena meminum air dan meruapkan bau busuk. “Kami tak bisa makan dan tidur karena ada satu mayat yang meletus, tubuhnya pecah,” kata Ferry.

Penderitaannya terhibur oleh kabar bahwa istrinya telah melahirkan dengan selamat. Di tenda pengungsian, bayi itu dipanggil “banjir”. “Banjir Imbiri,” kata Ferry.