+ “Saya butuh Anda di sana, Anda bisa melakukannya?”

– “Saya pikir bisa, Pak.”

+ “Oke, see you there!”

Percakapan itu terus di ingat oleh Handry Satriago. Inilah tantangan besar yang mesti diatasi untuk mencapai mimpinya: bepergian ke luar negeri. Paspor yang dibuatnya semasa masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Labschool Rawamangun pada 1986 akhirnya terisi stempel Imigrasi untuk pertama kalinya sebelas tahun kemudian. Singapura menjadi negeri pertama yang harus didatangi Handry sebagai Manajer Pengembangan Bisnis General Electric (GE) Indonesia.


Direktur Power Generation GE Energy se-Asia Tenggara, Handry Satriago

“Kepercayaan Stu yang membuat saya yakin bisa,” ujar Handry tentang permintaan Stuart Dean, Presiden GE ASEAN. Keterbatasannya langsung diatasinya saat naik burung besi menuju negeri di utara Pulau Sumatera itu. Sejak itu, meski duduk di atas kursi roda, dia sudah mengunjungi berbagai negara, termasuk Amerika Serikat markas GE, hingga diangkat sebagai Presiden General Electric Indonesia. “Semua ditunjukkan Yang Di Atas,” katanya tanpa kesan merendah.

Tiga belas tahun di perusahaan raksasa Amerika itu, Handry menjadi seorang motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya menjadi bisnis yang ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis lighting (pencahayaan), dia menghasilkan US$ 6 juta dalam dua tahun kepemimpinannya. Sebelumnya di GE tak ada yang melirik bidang itu, karena dianggap tak prospektif karena dikuasai Philips.

Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu menyanggupi tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri, terpisah dari consumer goods. Hasilnya, antara lain, tata cahaya di Bandar Udara Ngurah Rai dan siraman cahaya ke Candi Prambanan.

Dia merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka panjang dengan sejumlah pabrik besar dan kecil kimia, cat, dan tekstil. “Anda santai saja, tata cahaya efisien kami yang urus,” ujarnya.

Ketika menerima tantangan dari Stuart, nilai tukar rupiah terhadap dolar terjun bebas dari Rp 2.500 menjadi Rp 15 ribu. “Ketika sign kontrak, masih Rp 2.500. Saat barang datang tiga kontainer, jadi Rp 15 ribu.” Kontan, para pelanggannya di Glodok menolak barang itu. Tak menyerah, Handry membujuk mereka membuat kontrak jangka panjang, menjual barang tersebut dengan separuh nilai tukar.

Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang muda bahwa solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. “Mereka juga antusias karena diberi kepercayaan,” ujarnya. Inilah praktek kepercayaan pemimpin dengan pengikutnya yang menjadi resep andalannya. Selanjutnya, cerita sukses berlanjut ketika dia diminta memimpin bisnis di bidang energi. Dari 25 gigawatt listrik yang terpasang di Indonesia, 500 megawatt adalah karyanya. “Bangga juga, ha-ha-ha…,” Handry melepas tawa.

Sambil merangkul Basri Adhi, Handry menapaki satu per satu tangga kampus Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Karibnya itu, dan kawan kuliah lain, setia membopong Handry yang kedua kakinya dipasangi besi penopang supaya bisa berjalan tegak dengan kruk. Tujuan mereka: Laboratorium Gambar Teknik di lantai empat.

“Ya, berat, he-he-he…,” kata Basri. Satu teman lagi mengangkut kursi rodanya. Mereka teman sekelas Handry, selalu senang dengan Agogo panggilannya kala kuliah yang memberikan energi positif untuk terus berjuang dan ceria dalam hidupnya. Begitu terus sejak 1989, sampai 1993 Handry menyelesaikan kuliahnya. Skripsinya diganjar predikat sangat memuaskan.

Di SMA Labschool Rawamangun, Riri Riza, sutradara film Laskar Pelangi, ingat pertama kali karibnya itu masuk sekolah lagi setelah absen lebih dari sebulan. Dengan penyangga kaki, Handry terlihat santai dan berlaku seperti orang normal. “Sama sekali enggak berubah, enggak minder, enggak kelihatan sedih, dan masih nongkrong bareng kami,” kata Riri. Saat itu, di usia 17 tahun, Handry didiagnosis kena kanker getah bening di sumsum tulang belakangnya dan mesti dioperasi.

Teman-teman satu kelompok bermain memperlakukan Handry seperti orang normal, dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry tersinggung dengan keadaannya. Ketika nonton teater bareng, mereka menggotong Handry untuk masuk gedung teater.

Riri sejak awal sudah yakin, keterbatasan berjalan tak akan menghalangi pria berdarah Minang itu beraktivitas. “Sejak awal dia itu masuk jalur cepat, selalu selesai kelas lebih awal.” Di Labschool dia termasuk “siswa yang dibayar”. “Karena prestasinya bagus banget.” Maklum, saat itu sekolah tersebut menjadi percontohan siswa berbakat dan buat yang mampu secara ekonomi.

Kesederhanaan ekonomi Handry, yang ayahnya cuma pegawai logistik Total Indonesia, tak tampak dalam pergaulan. Wawasan Handry terbilang luas. Dia mampu bicara tentang musik rock dan metal yang sedang booming, sambil bicara klasik dan pop. “Waktu itu, baru dia yang paham Simon & Garfunkel, he-he-he….”

Dia menilai cuma sedikit orang yang seimbang hasrat main dan hobi belajarnya seperti Handry. Perbincangan dengannya terentang dari rencana madol alias bolos sekolah sampai membuat proyek ilmiah. Bicara dengan Handry, kata Riri, “Penuh warna kehidupannya.”

Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry nyaman. “Teman-teman membuat saya percaya diri,” katanya. Kondisi itu menumbuhkan semangatnya melawan keterbatasan.

Di lingkungan rumahnya, Handry bertetangga dengan pentolan pers Indonesia, Atmakusumah Sastraatmadja, Goenawan Mohamad, dan budayawan Umar Kayam. “Saya beruntung tetangga saya orang-orang hebat.” Sejak di sekolah menengah pertama, di kompleks Griya Wartawan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, wawasan seni dan sosial politiknya ditempa karya-karya seni klasik dan pop, serta sastra kritis, dari Shakespeare sampai Pramoedya Ananta Toer. Buku dan diskusi didapatnya di rumah Atma dan Umar Kayam.

Di sana dia juga mengenal teater dan musik klasik. “Anak-anak kami sudah menganggapnya kakak, dan ini sudah seperti rumahnya sendiri,” ujar Atma. Handry suka sekali gulai kambing masakan Sri Rumiati, istri Atmakusumah.

Penggemar Meryl Streep itu selalu dibopong ketiga putra Atma ke lantai dua Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di gedung teater itu, mereka nonton drama, misalnya Teater Koma.

Lantaran pengaruh pers yang kental, Handry sempat tergiur menjadi wartawan. “Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak wartawan, deh,” kata pengagum Syahrir itu.

Selepas kuliah, dia direkrut sebuah perusahaan teknologi mengurus majalahnya. Tiga tahun menabung hasil kerjanya, dia sekolah lagi di Institut Pengembangan Manajemen Indonesia Business School, dan lulus cum laude dengan dua gelar master. Sambil kuliah, dia membuka usaha desain grafis dengan kawan-kawan dan saudaranya.

Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric untuk masuk ke perusahaan tersebut. “Saya tolak. Ngapain? Saya punya bisnis sendiri, kok.” Maklum, bisnisnya sedang maju pesat. Sang pencari bakat tak menyerah, sambil menerangkan segala macam fasilitas yang bisa didapatkannya. Segala fasilitas dan perjalanan keluar negeri membuatnya kepincut. Posisi pertamanya Manajer Pengembangan Bisnis GE Indonesia. Dia mematok target menjadi Jack Welch, CEO GE.

Tiga belas tahun kemudian, dalam perjalanan ke Vietnam untuk urusan bisnis energi pembangkit listrik, dia ditawari posisi Presiden GE Indonesia. Jadilah pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969, itu pemimpin termuda di perusahaan raksasa Amerika tersebut. Sekaligus lulusan sekolah dalam negeri pertama yang menjadi bos GE Indonesia.

Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry dikenal pantang menyerah. Pada 1994, meski menjalani kemoterapi karena kankernya ternyata menjalar ke pinggang dia tetap tegar. “Saya selama ini dikasih jalan sama Dia.”

Juga saat Maret 2010 diketahui tulang belakangnya ada kelainan, fisiknya merasa sehat. Bedanya, kali ini suami Dinar Sambodja itu selama tiga pekan, selalu khawatir secara psikologis karena ada saja yang tak lancar, dokter tak ada, atau pembaca hasil la boratorium absen.

Mengubur keinginan menjadi ilmuwan dari Stanford University, Handry tetap tertarik pada bidang akademik. Dua pekan lalu dia meraih gelar doktor di bidang manajemen dengan disertasi tentang efek kepercayaan orang sekitar terhadap peningkatan kualitas pemimpin. Dia meruntuhkan keangkeran ruang sidang doktoral yang biasanya tanpa canda. “Semarak, dia memang biasa bergurau,” kata Riri, yang hadir dalam sidang doktornya di Universitas Indonesia. (Yophiandi)