Syaloom teman temanku,

Sebenarnya sudah lama saya ingin membagikan cerita suka duka ketika membantu Tenaga Kerja Indonesia non Kristen di Korea ini, selain uang habis, waktu habis, juga kadang kadang dimaki maki orang.

Beberapa bulan yang lalu, saya telah ditelpon oleh orang dari sekitar Jawa Timur yang meminta bantuan kepada saya, karena dia belum mampu berbahasa Korea, saat itu saya tidak terlalu sibuk, jadi saya berangkat ke tempat kerjanya, yang mana lokasinya itu amat jauh.

Dari Kimpo Airport naik taxi dengan kecepatan 70 kilometer per jam itu memakan waktu dua puluh menit, yaitu sekitar 23 Kilometer begitu, sedangkan dari Rumah saya sampai ke Kimpo Airport dengan naik Subway dengan kecepatan 80 Kilometer itu dicapai dalam waktu 45 menit.

Pada mulanya saya pikir bahwa Majikan dari orang itu memang kurang ajar, yaitu selain memecat orang tersebut pada jam 19:00 waktu di Korea, juga menurut ceritanya, gajinya yang lembur 30 menit itu hanya dihitung 20 menit saja, dan hampir hampir orang itu mengambil pisau dapur untuk membunuh majikannya, untunglah saya ketahui niatnya itu dan saya hentikan.

Tegang tentunya, saya juga merasa tegang, dan setelah saya telusuri, memang Gajinya itu dibayar dengan amat tepat, yaitu lembur 30 menitnya dibayar secara tepat, tapi dikurangi pajak lembur dan asuransi lembur, lha hal itu sama sekali tidak diketahui oleh orang itu, dia hanya mau ngotot, kalau lemburnya tidak dibayar penuh, maka dia tidak mau bekerja, oleh karena itulah dia mendapat suatu larangan kerja untuk bekerja di daerah Kimpo Airport lagi oleh pengurus Depnaker di Kimpo.

Majikannya itu begitu jengkel sekali dengan orang itu, dan sulit untuk mengekspresikan kejengkelan itu, selain memecatnya pada jam 19:00, dengan demikian orang itu tidak bisa tidur lagi, karena kalau dia tidur di Losmen, dia harus bayar per malam itu sekitar Rp. 200.000,–, tapi syukurlah dia punya teman, sehingga barang barangnya bisa dititipkan ke asrama temannya, dan dia bisa tidur di kamar temannya yang lain, yang sedang dinas malam.

Sekarang soal yang lain, yaitu dia benar benar tidak bisa mencari tempat kerja di sekitar Kimpo Airport, karena yang memberi larangan itu adalah Departemen Tenaga Kerja di Kimpo Airport, jadi dia pergi kemana mana untuk mencari tempat kerja selama tiga bulan lamanya, tapi tak satu tempat kerjapun yang mau menerimanya, karena begitu tempat kerja yang baru itu menelpon ke Depnaker Kimpo, Majikan baru itu akan mendapatkan datanya dari Depnaker Kimpo, dan hal itu membuat Majikan baru itu ketakutan untuk menerima dia sebagai pegawai yang baru, hal ini sama sekali tidak diketahuinya, karena dia tidak bisa mengerti bahasa Korea.

Akhirnya dia menelpon saya lagi dan meminta bantuan untuk dicarikan tempat kerja, kebetulan saya punya teman yang bisa memakai Tenaga Kerja Indonesia untuk memetik buah buahan di ladangnya, gajinya juga cukup tinggi yaitu Rp. 12.000.000 per bulan, dan diberikan tempat tidur dan makan siang, sedangkan makan Pagi dan makan Malamnya itu disuruh beli sendiri sesuai dengan selera masing masing, yaitu maksud Majikannya itu agar pegawainya itu merasa senang, karena bisa makan sesuai dengan selera sendiri.

Pada hari yang ditentukan untuk kerja, orang itu tidak datang, jadi saya yang dimaki maki oleh Majikan itu, dikiranya saya main main dengan Majikan itu, lalu saya menelponnya dan saya tanyakan mengapa dia tidak datang, katanya dia sedang sakit, lalu saya juga menceritakan hal yang sama kepada Majikan itu, dan saya tukar lowongan itu dengan TKI Kristen yang sedang mencari tempat kerja.

Setelah dia sembuh, dia tanya lagi tentang tempat kerja, lalu saya katakan, kalau memang mau kerja, ya yang sungguh sungguh dong, karena saya yang ditegor oleh Majikan, dikiranya saya main main. Saya rasa dia juga bisa mengerti dan dia minta dengan sangat agar dia itu dicarikan tempat kerja, lalu saya katakan bahwa dia pada jam 11:00 harus sudah berada di Stasiun Gasan Digital Complex, begitu nama Stasiun itu, jadi dengan Complex tertentu itu tidak ada sangkut pautnya.

Tepat jam 11:00 saya tunggu dia di Stasiun itu, tapi dia tidak ada sama sekali, sedangkan Stasiun itu tidak terlalu besar, jadi dari ujung ke ujung itu bisa dilihat dengan amat jelas, tapi tau tau dia menelpon saya dan katanya dia sudah berada di luar Complex. Saya lihat di luar stasiun ternyata dia tidak ada juga, dan saya tunggu sekitar 3 jam lamanya, kemudian saya kembali pulang ke rumah.

Pada saat itu dia mengirimkan SMS kepada saya, dia menganggap bahwa saya ini Calo Tempat Kerja dan memaki maki saya, oleh karena itu saya balas SMS itu “Kalau begitu prilakumu, kamu tidak akan saya bantu lagi”.

Setelah saya renungkan masak-masak, saya sungguh amat kagum dengan Tuhan Yesus, yang begitu baik dan begitu setia, bahkan ketika DIA berada di kayu salib pun, DIA bisa memintakan maaf, karena orang yang menyalibkan itu tidak tahu, tentang apa yang mereka perbuat. Disaat itulah saya bertelut dan memohon maaf kepada Tuhan Yesus, karena saya masih belum bisa menahan nafsu marah saya kepada teman yang mencari tempat kerja itu, teman itu memang lulusan SD dari Bangkalan, tapi datanya adalah lulusan SMA, hal seperti ini juga sering terjadi pada teman teman Kristen yang katanya dia sudah Dibaptiskan dua tahun yang lalu, tetapi ternyata baru saja beli “SURAT BAPTISAN”, jadi membaca Alkitab atau mengerti tentang Alkitab pun itu sama sekali tidak tahu.

Tuhan Yesus ketika di bumi ini, DIA dihadapkan dengan segala macam manusia yang sebenarnya harus DIA selamatkan, agar tidak masuk Neraka, dan agar bisa menerima kehidupan yang kekal, tapi apa yang diterima Tuhan Yesus? Dia diolok olok, diludahi, dipukuli, bahkan disalibkan juga.

Untuk mengerti akan hal itu semua, saya rasa belum ada seorang Missionari pun yang mampu melaksanakan hal itu seperti yang dilaksanakan oleh Tuhan Yesus Kristus itu, oleh karena itu, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus, terutama pada bulan Ramadhan ini yang dibayang-bayangi dengan Gempa dahsyat yang akan menghantam daerah daerah Sumatra.

Semoga Tuhan Yesus menguatkan hati kita semua, halleluya!

Salam dalam kasihNYA

(Ir. H.L. Njoo)
Ketua Dewan Pimpinan Komisariat
PARTAI DAMAI SEJAHTERA
di Republik Korea