Sosok pengusaha ini mudah dikenali. ia suka mengenakan celana pendek yang lengannya tak berjahit. Di bibirnya terselip cangklong. Lalu, bicaranya terbuka. Tidak ada kesan menutup-nutupi. Bahkan terkesan cuek dan urakan. Tak cuma itu Bob Sadino (70 tahun), demikian pengusaha nyentrik ini, juga nyemplung ke dunia peran. Keluarga Van Danoe, judul Sinetron yang dimainkan waktu itu.

“Saya suka dan tak merasa terganggu. Saya jadi terganggu bila saya keluar dari kebiasaan itu. Justru pakai dasi, pakai jas, saya tidak sreg,” ujarnya. Gara-gara pakaian ‘ kebesaran ‘ itu, Om Bob – demikian sapaan akrabnya, sempat diusir ketika akan mengadakan dengar pendapat di gedung terhormat para wakil rahyat, DPR. Waktu itu, negeri ini masih digenggam rezim orde baru .

Om Bob mengaku, penampilannya yang rada urakan itu, merupakan ekspresi pemberontakkannya. Ia menyebut hidupnya dari imajinasi, bukan fantasi. “Dari Imajinasi memungkinkan menciptakan hal-hal yang musykil,” ungkapnya. Tapi terkadang, penampilannya bisa rapi. Misal, seperti ala joki, lengkap dengan dasi menunggang kudanya. Seorang wartawan melihatnya, seperti ditulis dalam biografinya, Agribisnis Yang Membumi, Kisah Sukses Bob Sadino, berkelakar : “Rupanya lebih terhormat kuda daripada berkunjung ke DPR.”

Namun, dibalik gayanya yang nyentrik, Bob ini sarat dengan entrepreneurship. Buktinya, sebelum menjadi bos Kem Chicks – sebuah supermarket modern yang sebagian besar konsumennya orang asing, di Kemang, Jakarta Selatan, pria asal lampung ini pernah menjadi pegawai di Unilever dan Mclain and Watson Coy. Ia juga pernah 9 tahun berkelana di Amsterdam [ Belanda ] dan hamburg [ Jerman ]. Begitupun istrinya punya gaji besar. Semua itu ditinggalkan . demi tekadnya tidak ingin jadi pegawai, dan berada di bawah perintah orang lain. Walhasil, hidupnya pernah di zona tidak aman. Misalnya, pernah menjadi kuli bangunan dengan bayaran Rp.100 per hari. Ataupun supir taksi, dimana mobilnya pernah tabrakan hingga hancur.

Pria yang pernah kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia [ UI ] ini juga menyayangkan mental masyarakat yang lebih enjoy menjadi pegawai, termasuk mereka yang punya embel-embel sarjana. Mereka tidak memacu jiwa dan mental entrepreneurnya. Selalu saja dihantui soal uang dan resiko dari setiap usaha yang akan dibangun. Bahkan, ia menantang seorang sarjana apakah berani memasuki ‘universitas kehidupan’ , menjadi wiraswasta mandiri ?

“Seorang sarjana yang bekerja sebagai tukang tambal ban akan lebih baik daripada sarjana yang nganggur,” tandasnya. Menurunya, berusaha itu modalnya bukan melulu dui. “Itu urutan yang ke seratus,” ujar Om Bob jika disentil soal modal jadi kendala terbesar orang enggan menekuni dunia usaha.

Dimata Om Bob, soal modal itu tidak selalu harus terlihat, seperti uang ataupun aset yang dimiliki. tapi, ada juga yang tidak terlihat. Apa saja ? Ia menyebut soal kemauan, keberanian dan tekad. “Nah, modal saya itu hanya kemauan. Saya punya kaki, punya tangan. Jadi saya berbuat saja,” ungkap anak bungsu dari pasangan Sadino dan Aisjah, campuran Solo dan Banten ini.

Dan itu bukan hanya teori saja. tapi juga dibuktikan dan dipraktekkan langsung oleh Om Bob. Ketika hidupnya di zona tidak aman itu, pria kelahiran 9 Maret 1933 ini diajak oleh temannya memelihara ayam untuk mengatasi depresi. Dari sinilah asal muasal ‘kerajaan bisnis’ Kem Cick – nya dibangun.

Om Bob menjual beberapa kilogram telur per harinya, terutama pada orang-orang asing di Kawasan Kemang, tempat tinggalnya saat itu. Selama menjual telur itu, suka dukanya banyak dialami oleh Om Bob dan istrinya. Mereka suka dimaki oleh pelanggan. bahkan, tidak jarang, para pembantu pun ikut–ikutan mendamprat. Tak diduga, semua pengalaman itu, jadi titik balik dalam hidupnya bukan dilayani melainkan melayani . Dan itu dinilainya sebagai modal luar biasa yang pernah dimiliki. Menurutnya , kepuasan pelanggan akan membawa kepuasan pribadinya. Maka, ia selalu berusaha melayani klien sebaik-baiknya. jangan heran, Om Bob dan istrinya Soelami (70 tahun) masih melayani pembeli. Mereka terampil memasukkan 10 ayam ke dalam plastik bag untuk pembeli.

Berkat ulet dan gigih, usahanya terus berkembang, merambah ke agribisnis. Ia mengelola kebun-kebun yang berisikan sayur mayur untuk konsumsi orang-orang jepang dan eropa. Ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah untuk memenuhi pasokan group Kem-nya , seperti Kem Chicks, Kem Food, maupun Kem Farms. Ataupun dipasarkan ke swalayan lain.

“Saya punya cita – cita para petani itu harus kaya dan bisa naik mercy,” ujar bapak dari Myra Andiani dan Shanti Dwi Ratih ini. “Semua itu harus dikerjakan, Jangan cuma mengeluh.” Dan Om Bob, lagi-lagi membuktikan. Ia tak cuma menjadi petani berdasi , juga merasakan betapa kasarnya tangan dihujamkan ke tanah. “Bila tangan tak ikut bicara, jangan harap sukses mengembangkan agribisnis,” jelasnya.

Om Bob percaya, di balik kesuksesan itu selalu di imbangi kegagalan. Maklumlah, perjalanan wirausaha tidak semulus bayangan banyak orang. “Kalau orang itu menghindari resiko, saya termasuk orang yang mencari resiko,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam melaksanakan suatu ide yang berkembang, seyogyanya rencana tidak terlalu baku dan kaku. “Semua tergantung pada pengembangandiri. Dunia ini terlampau indah untuk dirusak oleh mereka-mereka yang kecewa karena tidak mencapai sesuatu yang direncanakan,” tuturnya.

Ia menyebut, kelemahan banyak orang terlalu banyak berpikir membuat rencana, hingga tidak segera melangkah. “Padahal, yang terpenting itu action dan action. Bukan selalu dari ilmu dulu, baru praktek dan trampil menjadi profesional. Kalau saya itu, selalu di indentikkan orang yang tidak sekolah, tapi selalu belajar,” katanya , mengutip penjelasan Andrias Harefa, seorang pemerhati entrepreneur.

Lantas apa itu sukses ? ternyata batasannya tidak muluk – muluk. Baginya apa yang diharapkan, itu yang didapatkan, itulah sukses. Jadi, kalau besok Om Bob mengharapkan makan, dan besok diperolehnya, itu sudah sukses. “Buat saya, nasi sepiring itu sudah baik. Mari menghargai sepiring nasi. Saya menghargai sepiring nasi, karena saya pernah merasakan jadi orang lapar,” tuturnya.

(Gita – Majalah Sukses)