(Sebuah refleksi batin kawula alit)

Langit malam  di kota semarang cukup cerah, hilir mudik berbagai jenis kendaraan mulai memadati jalan-jalan protokol di kota itu seakan mengingatkan kita pada sebuah gaya kehidupan hedonis. tak ketinggalan pula kekhasan kota tersebut yaitu cuaca panas, banjir/rob, nyamuk dimana-mana seakan-akan melengkapi derap kehidupan kota atlas tersebut. Ketika sepeda motorku mulai menyusuri sepanjang sisi kota, seolah olah pandanganku tertuju pada banyaknya deretan rumah makan dengan berbagai macam menu yang ditawarkan mulai dari makanan pinggiran sampai dengan makanan berbau ke-londo-londoan alias panggonan kalangan hedonis dan kaum borjuis. Hal ini tidak mengherankan kalau semarang  mendapat julukan “surganya  makanan”pengelola tempat makan men-sulap sedemikian rupa sehingga wajah tempat makan tersebut berkamuflase menjadi bentuk-bentuk menarik diantaranya : karaoke keluarga, café net, tenda biru, teh poci dan lain sebagainya. Dari sekian banyak tempat makan yang ada mata saya tergelitik pada sebuah tempat makan yang tidak kalah serunya yaitu ; “café tiga ceret/KACRET” atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “angkringan.”Dengan bentuk  sederhana keberadaan angkringan menjadi bagian urat nadi kehidupan ekonomi kota semarang. Hadirnya sebuah angkringan seakan-akan menjadi tabung oksigen bagi masyarakat yang sedang  menderita asma finansial. Hal tersebut dikarenakan apa yang disediakan diangkringan terjangkau untuk semua kalangan khususnya kalangan masyarakat bawah. Jeritan masyarakat bawah seakan-akan mengingatkan kita betapa pemerintah sekarang sudah sepenuhnya menganut paham “Rai gedek lambe toples”(unsur sudah tidak punya malu atas segala kesalahan yang diperbuat). Para elit politik serasa mudah sekali mengumbar janji-janji kosong tanpa ada realisasi kongkrit. Gaung demokrasi begitu menggema namun pada kenyataannya ruang aspirasi dan apresiasi masyarakat semakin sempit, masyarat bawah bukanlah orang bodoh mereka kritis dan peka dalam menangkap gejala-gejala sosial, namun karena dilahirkan dengan prinsip hidup nrimo maka mereka lebih banyak menggunakan hati dalam berbicara.. Angkringan inilah sebagai wahana masyarakat bawah untuk melakukan kegiatan sosialisasi, mereka mengeluarkan segala unek-unek yang mereka rasakan dan temui selama beraktifitas seharian. Seandanya para penguasa peka akan hal ini, mungkin mereka bisa berpikir bahwa diangkringan inilah gagasan-gagasan kritis muncul setiap malamya

Nasib rakyat kecil tak ubahnya seperti lampu teplok, biarpun bentuknya kecil namun dapat bisa menerangi semua orang disekitarnya serta mampu menerbarkan jelaga kedamaian bagi semua orang. Ada ungkapan yang saya tangkap dari pengunjung café tiga ceret “pemerintahe dewe ki kaya tukang sate nawakke mangan tongseng, ketoke enak tapi nek ngekeine dipisah lha dadine tong-mbe-seng, yo westi dadi ra enak mergone ra iso dipangan kabeh…atoss kabeh malah nglarani awak”mendengar ungkapan itu saya rasa tepat dan cukup logis, kelihatanya program pemerintah menolong namun sejatinya memunculkan pribadi parasit yang tak lekang dari unsur pemanjaan ekonomi. (coan/300909)